Nanobubble Water untuk Pertanian Hidroponik Tengah Dikembangkan
Jagad Tani - Rekayasa teknologi melalui air yang “diaktifkan” dan diperkaya, memiliki fungsi ganda sebagai pembawa nutrisi esensial sekaligus agen sterilisasi. Teknologi ini dikenal sebagai plasma activated nanobubble water.
Pada akhirnya Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) melakukan rekayasa teknologi Plasma activated nanobubble water, karena dinilai berpotensi dalam mengubah paradigma pertanian modern, khususnya pada sistem hidroponik.
Baca juga: Keunggulan Budidaya Ikan Sistem Kolam Air Deras
Indra Sakti yang merupakan seorang peneliti PRMC Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa proses teknologi ini menggabungkan nanobubble generator dengan reaktor plasma bertegangan tinggi.
Dalam prosesnya, nanti akan terbentuk gelembung gas berukuran sangat kecil (nanobubble) yang stabil di dalam air, serta berbagai spesies kimia reaktif. Kombinasi keduanya membuat air menjadi aktif secara kimiawi dan memiliki sifat yang berbeda dari air biasa.
“Air hasil aktivasi ini mengandung senyawa seperti reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS), ozon (O?), hidrogen peroksida (H?O?), nitrat (NO??), dan amonium (NH??),” ungkap Indra dalam keterangan tertuisnya dikutip Kamis (25/06).
Menurut Indra, senyawa-senyawa tersebut memiliki peranan penting di dalam proses sterilisasi, sekaligus menjadi bagian dari pendukung proses pertumbuhan tanaman secara alami, dan keunggulan sistem hibrida ini terletak pada sinergi mekanismenya.
“Air plasma tidak serta-merta menggantikan seluruh pupuk konvensional, melainkan bertindak sebagai pensubstitusi unsur Nitrogen (NO?? dan NH??) yang dihasilkan langsung dari udara," jelasnya.
Sementara itu, untuk kebutuhan unsur hara makro dan mikro lainnya (seperti Fosfor, Kalium, dan zat besi) akan dipenuhi dalam dosis minimal dari pupuk hidroponik standar.
Keberadaan nanobubble dengan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang tinggi akan memicu akar tanaman untuk menyerap seluruh nutrisi berkali-kali lipat lebih efisien. Dampaknya akan terlihat pada fase vegetatif yang lebih cepat dan kualitas hasil panen yang lebih optimal.
“Selain itu, kandungan senyawa reaktif seperti ozon dan hidrogen peroksida dalam air membantu menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen, sehingga lingkungan akar menjadi lebih steril secara alami,” paparnya.
Lebih lanjut Indra menjelaskan bahwa risiko penyakit tanaman, seperti busuk akar, dapat diminimalkan tanpa perlu penggunaan pestisida tambahan, sehingga sistem budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan aman.
Meskipun masih dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan, teknologi plasma nanobubble berbasis sistem hibrida ini memiliki potensi untuk diterapkan secara luas sebagai solusi pertanian modern di masa depan.
“Target jangka panjang dari penelitian ini adalah mereduksi ketergantungan pada input pupuk sintetis eksternal dan pestisida kimia, sekaligus meningkatkan produktivitas serta keamanan hasil panen nasional secara signifikan,” pungkas Indra.

