Membangun Kesadaran Warga dari Lorong Sempit Jakarta
Jagad Tani - Di tengah padatnya kawasan permukiman di Jakarta Timur, terdapat sebuah lorong yang menjadi teladan, bahwa perubahan besar itu bisa lahir dari lingkup terkecil. Dari gang sempit inilah, tumbuh sebuah gerakan yang mengubah cara masyarakat dalam memandang sampah, dan lingkungan.
Taufiq Supriadi Yusuf, itulah nama sosok yang menjadi pelopor dari kesadaran warganya sekaligus Ketua RT 008/RW 004 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Baginya, membangun lingkungan bukan dimulai dari anggaran yang besar, melainkan dari perubahan perilaku.
Baca juga: Bertani dari Ketinggian, Bukan di Dataran Tinggi
"Kalau kita ingin masyarakat berubah, kita harus mulai dari diri kita sendiri dulu. Ketika kita berhasil memberi contoh, masyarakat akan ikut meniru," ungkap Taufiq saat ditemui di rumahnya, Kamis siang (25/06).
Prinsip sederhana tersebutlah, yang jadi fondasi dari berbagai inovasi yang kini berkembang di lingkungannya.
Berawal dari Persoalan yang Nyata
Saat pertama kali dipercaya menjadi Ketua RT, Taufiq tidak langsung menjalankan program-program besar. Langkah pertamanya justru mengamati persoalan yang paling dirasakan warga. Ia menemukan tiga masalah utama: lingkungan yang kurang hijau, persoalan sampah yang belum tertangani dengan baik, dan budaya masyarakat yang masih bergantung pada bantuan dari atas.
Menurutnya, pembangunan lingkungan seharusnya tidak selalu bersifat top-down, tetapi perlu dibangun dari bawah (bottom-up), dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan. "Saya tidak ingin hanya melanjutkan administrasi RT. Saya ingin mengubah cara berpikir masyarakat," tuturnya.
Namun demikian, ia tetap memegang satu prinsip penting, yakni menghormati para pendahulunya. Program-program yang sudah baik tidak dihapus, melainkan dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih besar.
"Jalan Nusa Indah IV Gang 8, satu di antara tiga lorong yang ada di RT 008 RW 004, Malaka Jaya." (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)
Mengubah Sampah Menjadi Tambang Emas
Salah satu gagasan yang terus ia gaungkan adalah bahwa sampah organik bukanlah limbah, melainkan sumber daya.
Ia menyebut sampah organik sebagai "tambang emas di depan mata." Bahkan selama sebelas tahun terakhir, keluarganya telah terbiasa memilah sampah. Karena itu, ketika program pengelolaan sampah diterapkan di lingkungan RT, ia tidak memulai dari nol. Sampah dapur yang dihasilkan warga tidak lagi dibuang begitu saja.
Sisa sayuran, buah, maupun makanan dimanfaatkan sebagai pakan maggot, ayam, dan ikan. Ayam yang dipelihara pun bukan sekadar hobi. Ia memilih ayam petelur jenis Lohmann Brown, karena produktivitas telurnya tinggi.
Bahkan menurutnya, cukup dua hingga empat ekor ayam di setiap rumah sudah mampu mengurangi sebagian besar sampah organik rumah tangga. "Kalau ada sisa daging atau makanan, ayam sangat suka. Sampah organik itu habis dimanfaatkan," sambungnya.
"Taufiq sedang memberikan sisa makanan kepada ayam-ayam di kandang, yang berada di dalam gang RT-nya." (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)
Kotoran ayam kemudian diolah menjadi pupuk, sementara hasil budidaya ikan dan ayam dapat dikonsumsi maupun dijual kembali. Sehingga dengan sistem tersebut, hampir tidak ada limbah organik yang benar-benar terbuang.
Membangun Ekonomi Sirkular dari Halaman Rumah
Di RT 08, pengelolaan lingkungan bukan hanya soal kebersihan. Semua dirancang dalam satu ekosistem yang saling terhubung, yakni sampah organik menjadi pakan maggot, maggot menjadi pakan ayam dan ikan. Nantinya ayam akan menghasilkan telur, sedangkan ikan bisa dipanen untuk konsumsi maupun dijual.
Sementara itu, untuk kotoran ayam bisa diolah menjadi pupuk, dan tanaman bisa digunakan sebagai bahan pangan bagi warga. Siklus tersebut terus berputar sehingga menciptakan ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.
Menurut Taufiq, semakin sedikit sampah yang keluar dari lingkungan, semakin besar manfaat ekonomi yang diperoleh warga.
Memulai dengan Memberi Contoh
Nah, persoalan awalnya, Taufiq menilai bahwa mengajak masyarakat ternyata bukanlah perkara mudah. Alih-alih memaksa warga mengikuti program, Taufiq memilih menunjukkan manfaat nyata. Sebab ia percaya bahwa contoh lebih efektif dibandingkan sekadar imbauan.
"Saya tidak menjadikan warga sebagai objek program, tetapi sebagai subjek," ungkapnya.
Orang-orang yang awalnya skeptis justru dilibatkan langsung dalam berbagai kegiatan. Ketika mereka melihat sendiri hasilnya, yakni lingkungan menjadi bersih, tanaman tumbuh subur, ikan dan ayam menghasilkan pendapatan, dan perlahan-lahan penolakan itu berubah menjadi dukungan.
"Tampak kolam gizi mandiri yang ada di RT 008." (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)
Kepemimpinan yang Menyiapkan Generasi Berikutnya
Bagi Taufiq, organisasi yang baik bukan bergantung pada satu orang. Oleh karena itu, regenerasi menjadi perhatian utama. Dari sekitar 40 rumah yang berada di wilayahnya, ia telah membentuk sekitar 20 orang pengurus.
Setiap kegiatan selalu dipimpin secara bergantian agar muncul kader-kader baru yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Ia juga membentuk lima kelompok kerja yang fokus pada bidang berbeda, yakni pertanian, perikanan, peternakan, pengelolaan air, dan pengolahan sampah.
Seluruh prosedur kerja, pembagian tugas, hingga cara menyelesaikan konflik organisasi didokumentasikan secara terbuka agar dapat dipelajari oleh siapa saja, bahkan program kerjanya bisa diakses melalui laman website RT 008 RW 004 Malaka Jaya ini.
Bergerak Tanpa Menunggu Anggaran
Salah satu pesan yang paling sering ia sampaikan yaitu jangan menjadikan keterbatasan dana sebagai alasan untuk berhenti bergerak. Lebih lanjut, Taufiq menyebutkan jika sejak awal hanya menunggu bantuan pemerintah, banyak program tidak akan pernah dimulai. Karena itu, ia memilih membangun kepercayaan terlebih dahulu.
Saat membutuhkan ratusan pot tanaman, misalnya, ia meminjamkan dana pribadinya kepada warga agar program penghijauan dapat segera berjalan. Setelah program berhasil dan mendapat perhatian publik, berbagai dukungan mulai berdatangan, termasuk melalui hasil peliputan yang dilakukan oleh media mainstream.
"Taufiq saat sedang menjelaskan pakan ayam dari maggot, yang ada di Rooftop rumahnya, ketika sedang dikunjungi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cirebon." (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)
Bukan cuma itu, perusahaan besar seperti Bank Indonesia, Bank Mandiri, hingga Jasa Raharja turut memberikan bantuan melalui program tanggung jawab sosial (CSR). Bahkan berbagai lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi mulai menjadikan RT tersebut sebagai lokasi pembelajaran, termasuk saat tim Jagad Tani liputan, tempat itu juga turut dikunjungi oleh mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN).
Lorong Sempit yang Mendunia
Apa yang dimulai dari lingkungan kecil ini ternyata menarik perhatian dunia. Berbagai universitas, peneliti, media internasional, hingga tamu dari Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat datang untuk melihat langsung inovasi yang dilakukan warga RT 08.
Menurut Taufiq, dunia tidak hanya melihat bangunan atau fasilitasnya, tetapi juga semangat yang tumbuh di tengah masyarakat. Ia bahkan diundang untuk datang ke China Central Television (CCTV), stasiun televisi nasional nomor satu di Tiongkok.
Ia meyakini bahwa Indonesia dapat dikenal dunia bukan hanya melalui gedung-gedung tinggi, melainkan melalui kampung-kampung yang berhasil membangun kemandirian. "Indonesia bisa menjadi besar bukan hanya dari gedung tinggi, tetapi dari gang-gang kecil yang mampu menginspirasi," paparnya.
Kesadaran Adalah Awal Perubahan
Bagi Taufiq, tantangan terbesar itu bukan soal teknologi ataupun pendanaan, melainkan mengubah pola pikir manusianya atau Sumber Daya Manusia (SDM). Semua inovasi yang ada di lingkungan RT 08 bermula dari satu kesadaran sederhana, yakni setiap aktivitas manusia akan menghasilkan sampah.
Jika sampah dipandang sebagai masalah, maka ia akan terus menjadi beban. Namun jika dipandang sebagai sumber daya, sampah justru mampu menghadirkan manfaat ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga, sekaligus menjadi upaya untuk terus menjaga lingkungan.
Lorong sempit di Malaka Jaya menjadi bukti bahwa perubahan tidak harus dimulai dari tempat yang besar. Ia cukup dimulai dari satu rumah, satu keluarga, lalu menyebar kepada seluruh warga. Dan ketika kesadaran tumbuh bersama, sebuah lingkungan kecil pun mampu menginspirasi dunia.
“Dari Lorong kecil harus bermanfaat besar, dan dari lorong kecil (pula, kita) harus (bisa) memberikan Solusi besar,” pungkasnya.

