• 4 July 2026

Alokasi Pupuk Subsidi Jatim Capai 2.038.387 Ton

uploads/news/2026/07/alokasi-pupuk-subsidi-jatim-2007384ac36b556.jpg

Jagad Tani - Alokasi pupuk bersubsidi petani di Jawa Timur tahun 2026 menjadi yang terbesar di Indonesia, yakni dengan total 2.038.387 ton, sementara untuk jumlah ketersediaan stok, saat ini sudah mencapai 142.711 ton.

Hal ini diungkapkan oleh Regional CEO 3 PT Pupuk Indonesia (Persero), Eko Suroso, saat sesi "Media Gathering Regional 3" di Lamongan, Jawa Timur, Rabu (01/07) lalu. Menurutnya, Jawa Timur menjadi barometer pertanian di Indonesia.

Baca juga: Ekspor Bawal Hitam Papua Tengah Tembus Malaysia

"Sekitar sepuluh tahun lalu, masih ada petani di Jawa Timur menggunakan pupuk Urea sebanyak 1.000 kilogram (kg) per hektare (Ha). Ini berbahaya tidak hanya ongkosnya yang membengkak, tapi tanah juga akan mengalami kerusakan," ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan rekomendasi, Eko menjelaskan jika pemupukan berimbang pada tanaman padi umumnya menggunakan pola 5:3:2 yaitu 500 kg pupuk organik, 300 kg pupuk NPK dan 200 kg pupuk Urea untuk lahan seluas 1 Ha.

"Sebagai contoh, sebagian besar lahan pertanian di Lamongan memiliki tingkat pH tanah yang bersifat basa. Sehingga untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tanah di lahan pertanian tersebut perlu diaplikasikan pupuk organik," sambungnya.

Adapun jutaan ton alokasi pupuk bersubsidi di Jawa Timur, terdiri dari Urea 1.005.145 ton, NPK Phonska 884.868 ton, NPK Kakao 225 ton, pupuk organik 114.309 ton, ZA 10.987 ton, SP-36 22.823 ton. Alokasi ini sekarang sudah terserap 56%, atau sekitar 1.146.561 ton.

"Tingginya serapan ini tidak lepas dari kemudahan-kemudahan yang diberikan Pemerintah. Tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi mengalami transformasi pada selama dua tahun terakhir, mulai dari penyederhanaan regulasi hingga penurunan HET (Harga Eceran Tertinggi)," terang Eko.

Sedangkan untuk menjaga serapan di Jawa Timur, Pupuk Indonesia menyediakan stok pupuk bersubsidi sebanyak 142.711 ton, yang terdiri dari Urea 113.239 ton, NPK Phonska 21.026 ton, NPK Kakao 129 ton, pupuk organik 5.971 ton, ZA 1.540 ton, dan SP-36 806 ton, dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan petani selama tiga pekan kedepan.

"Saat ini Pupuk Indonesia juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Jawa Timur, untuk melihat daerah mana yang serapannya tinggi, dan wilayah mana yang serapannya tidak maksimal," terangnya.

Lebih lanjut, Eko mengimbau petani agar menebus pupuk bersubsidi hanya melalui Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) atau kios resmi untuk menghindari berbagai modus penipuan yang menawarkan pupuk bersubsidi melalui media sosial.

"Banyak sekali tawaran di media sosial, menampilkan foto gudang pupuk bersubsidi, dengan menawarkan penjualan harga murah. Saya pastikan itu penipuam. Pupuk bersubsidi hanya bisa ditebus petani terdaftar di PPTS," tegas Eko.

Untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, pertani harus terdaftar di e-RDKK, serta menggarap maksimal lahan 2 Ha, dan pupuk bersubsidi ini hanya diperuntukkan bagi 10 komoditas, yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao, kopi, dan ubi kayu.

Tahun 2026, alokasi pupuk subsidi juga menyasar sektor perikanan. Adapun untuk pembenihan meliputi udang windu, vaname, bandeng, nila, mas, gurame, lele dan patin. Sementara untuk pembesaran yakni udang windu, vaname, bandeng, nila salin, dan lele.

Pembudidaya ikan yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi juga harus terdaftar dalam e-RPSP (Elektronik Rencana Penyediaan dan Penyaluran Subsidi Pupuk). Pembudidaya untuk pembesaran maksimal menggarap 2 Ha lahan, untuk pembenihan maksimal 0,75 Ha (air tawar) dan 0,5 Ha (air payau).

Related News