Jagad Tani - Mengoptimalkan peran (BVet) Balai Veteriner Banjarbaru sebagai pusat laboratorium kesehatan hewan yang melayani seluruh Pulau Kalimantan dinilai penting, untuk menjadi garda terdepan dalam cegah wabah penyakit hewan.
Kalimat tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI di BVet Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (3/7) lalu.
Baca juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Kudus Terdampak
Menurutnya, keberadaan laboratorium berfasilitas modern jadi modal penting dalam memperkuat sistem pengawasan kesehatan hewan nasional, untuk mengantisipasi penyebaran penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), antraks, dan penyakit lainnya.
"Kami melihat laboratorium veteriner ini merupakan pusat laboratorium yang melayani seluruh Pulau Kalimantan untuk pemeriksaan kesehatan ternak, khususnya sapi dan domba," ungkap Panggah.
Keberadaan laboratorium ini dinilai cukup lengkap, lanjutnya, sehingga bisa efektif menjadi pusat laboratorium kesehatan hewan di Kalimantan dalam upaya mencegah penyebaran penyakit hewan, sehingga penanganan penyakit akan jauh lebih efektif jika dilakukan melalui deteksi dini dibandingkan setelah wabah meluas.
"Persoalan seperti PMK, tentu akan membutuhkan waktu yang panjang untuk membersihkan wilayah dari virus yang sudah terlanjur menyebar. Karena itu saya kira laboratorium ini menjadi sangat penting ke depan sebagai instrumen pencegahan, sehingga kita tidak lagi bertindak setelah penyakit telanjur beredar," terangnya.
Ditambahkan pula bahwa penyakit seperti PMK dan antraks merupakan ancaman yang kerap muncul berulang sehingga kesiapan infrastruktur laboratorium harus terus diperkuat. Meski begitu, pembangunan fisik saja belum cukup apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
"Dengan kelengkapan laboratorium dan infrastruktur yang dimiliki untuk melayani seluruh Pulau Kalimantan, tentu SDM-nya juga harus dipersiapkan. Ini menjadi bagian dari optimalisasi fasilitas yang sudah tersedia dan harus menjadi perhatian bersama," ucapnya.
Selain penguatan laboratorium, keberadaan penyuluh pertanian dan peternakan, juga diungkap panggah harus menjadi ujung tombak bagi pembangunan sektor pangan di lapangan.
"Para penyuluh memang menjadi ujung tombak, tidak hanya di bidang peternakan tetapi juga pertanian. Saya kira ini merupakan perubahan yang cukup signifikan. Apalagi dengan dukungan kesejahteraan yang semakin baik, tentu akan menarik minat generasi muda untuk menjadi penyuluh," ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan jika peningkatan jumlah penyuluh harus dibarengi dengan penguatan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang terus berubah.
"Tentu mereka harus dibekali pengetahuan dan teknologi terbaru, karena teknologi pertanian maupun peternakan terus berkembang. Agar para penyuluh mampu mengikuti perkembangan teknologi dan menyampaikan inovasi tersebut kepada para petani maupun peternak," pungkasnya.

