Pasca Bulan Suro, Begini Kondisi Harga Ayam-Telur
Jagad Tani - Penurunan harga ayam dan telur ayam di tingkat peternak dalam beberapa waktu terakhir, disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya, dikarenakan memasuki bulan Suro (bulan pertama di penanggalan Jawa).
Hal tersebut diungkapkan I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), kenaikan harga yang saat ini perlahan-lahan bergerak ke arah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen, dinilai terjadi setelah berakhirnya bulan Suro, ditambah mulai aktifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Baca juga: Pantauan Harga Beras Premium Bulan Juli 2026
"Kalau data kami dan juga bertanya ke teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya dan sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik," ungkapnya dikutip Rabu (15/7).
Lebih lanjut, Ketut mengungkapkan, jika selama bulan Suro atau bertepatan juga dengan bulan Muharram dalam penanggalan islam, cukup berpengaruh dalam pembelian ayam dan telur di masyarakat, karena permintaan untuk acara hajatan mantenan (pernikanan) berkurang.
"Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi," tuturnya.
Berdasarkan pantauan harga Bapanas, rerata harga ayam broiler di tingkat peternak mulai bertumbuh 4,11% dalam seminggu terakhir. Bahkan Per 14 Juli, rerata harga ayam broiler berada di Rp21.736/kg berat hidup, padahal seminggu sebelumnya berada di Rp 20.878/kg untuk berat hidup.
Untuk Riau rerata harga ayam broiler tingkat peternak sudah berada di atas harga acuan pembelian (HAP) tingkat produsen, karena ada di harga Rp 25.600/kg berat hidup, adapun HAP yang ditetapkan yakni Rp25.000/kg berat hidup, dan Sumatra Selatan (Sumsel) harga reratanya masih di bawah HAP, yakni Rp18.125/kg berat hidup.
Sementara itu, untuk telur ayam ras, per 14 Juli rerata harga secara nasional di Rp22.644/kg, harga tersebut mulai meningkat sekitar 0,66% bila dibandingkan dengan seminggu sebelumnya yang masih berada di Rp22.495/kg.
Banten menjadi wilayah dengan rerata harga telur paling rendah, yaitu Rp20.300/kg, sedangkan rerata harga paling tinggi berada di Sulawesi Utara (Sulut) dengan harga Rp28.200/kg. Sementara HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan di Rp26.500/kg.
"Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp 20.000 sampai Rp 21.000, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus nih. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," jelasnya.
Lebih lanjut, Ketut menyatakan turunnya permintaan telur dan daging ayam di masyarakat, menjadi salah satu penyebab penurunan harga di tingkat peternak. Namun ke depannya, ada koreksi positif agar peternak dapat menyokong keberlangsungan unggas dalam negeri.
"Sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita," tukasnya.

