• 18 July 2026

Harga Ayam dan Telur Perlahan-lahan Bergerak Maju

uploads/news/2026/07/harga-ayam-dan-telur-3437194c9499f8f.jpg

Jagad Tani - Turunnya harga ayam dan telur ayam dalam beberapa bulan terakhir, disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat permintaan masyarakat. Namun, pertumbuhan positif harga di tingkat peternak unggas kini mulai dirasakan.

Menurut Parjuni, anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, dalam keterangan pers-nya dikutip Sabtu (18/7) menuturkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan harga mulai dari momen bulan Suro, hingga liburnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Baca juga: Pasca Penetapan, Harga Telur Tembus Rp29.000/Kg

"Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand (permintaan) dari masyarakat itu turun," ucap Parjuni.

Lebih lanjut, Parjuni menyatakan bila saat ini sudah mulai merasakan adanya pertumbuhan harga di kalangan peternak unggas, meskipun masih belum mencapai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak.

"Kemarin itu harganya (telur) Rp17.000 sampai Rp18.000 (per kg di tingkat peternak). Sampai dengan hari ini di kisaran Rp20.000 sampai Rp21.000 (per kg). Jadi memang ada growth (pertumbuhan) naik," lanjutnya.

Bukan cuma itu saja, Ia pun berharap agar para pemangku jabatan, bisa dapat terus mendukung peternak unggas, salah satunya dengan menggulirkan program bantuan pangan berupa telur dan daging ayam karkas kepada masyarakat.

"(Dahulu) itu kan ada program stunting. Barangkali nanti bisa dibikin pola yang sama. Jadi konsepnya (dibahas) sekarang, (nanti di bulan) September (bisa di)aplikasi(kan). Itu saya kira nanti akan (jadi solusi dalam) mengatasi (masalah penurunan harga)," terangnya.

Sebelumnya, pada tahun 2023 dan 2024 Badan Pangan Nasional (Bapanas) menugaskan ID Food menyalurkan bantuan pangan, guna pengentasan stunting kepada 1,4 juta keluarga, dan masing-masing diberi 1 kg daging ayam dan 10 butir telur ayam per bulan, dengan alokasi bantuan untuk 3 bulan.

Bantuan pangan tersebut berkolaborasi dengan peternak, dalam catatan Bapanas, hingga tahun 2024 tercatat sudah terlaksana kemitraaan dengan total sampai 8.778 peternak yang terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.

Sementara itu, I Gusti Ketut Astawa, selaku Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menjelaskan soal rencana pengguliran kembali program bantuan pangan di tahun ini, dan masih menunggu keputusan Rapat koordinasi terbatas (Rakortas) bidang pangan.

"(Bantuan pangan telur dan daging ayam) belum ada keputusan Rakortas. Tentu nanti kita masih perlu menunggu. Jika dimungkinkan diputuskan, (tentu) kita lakukan," ungkap Ketut saat ditanya awak media pada Selasa (14/7) lalu.

Berdasarkan pantauan harga Bapanas, per 16 Juli rerata harga ayam broiler secara nasional di tingkat peternak telah meningkat 5,53% dalam sepekan terakhir, seminggu yang lalu harga telur masih berada di Rp20.878 per kg berat hidup, dan bergerak naik menjadi Rp22.032 per kg berat hidup.

Daerah Sumatera Selatan menjadi daerah dengan rerata harga ayam broiler paling rendah dengan Rp19.500 per kg berat hidup. Sementara daerah dengan rerata harga paling tinggi ada di Riau di Rp26.000 per kg berat hidup.

Untuk rerata harga daging ayam ras tingkat konsumen mengalami kenaikan, namun masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan di Rp40.000 per kg. Sementara rerata harga telur di tingkat konsumen secara nasional per 16 Juli berada di Rp37.040 atau minus 7,4% dari HAP.

Lebih lanjut, untuk rerata harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional per 16 Juli telah mengalami pergerakan cukup siginifikan hingga 2,2% jika dibandingkan terhadap sepekan lalu. Dari Rp22.495 per kg bergerak menjadi Rp 22.989 per kg.

Akan tetapi, rerata harga telur peternak di Sulawesi Utara telah mencapai Rp27.067 atau melebihi HAP yang ditetapkan di Rp26.500 per kg. Sementara di Banten masih di bawah HAP dengan rerata harga telur tingkat peternaknya di Rp21.250 per kg.

Untuk rerata harga telur ayam ras secara nasional di tingkat konsumen juga naik tipis di Rp 27.798 per kg atau minus 7,34% dari HAP. Level harga tersebut patut dipahami masih di bawah HAP tingkat konsumen yang dipatok pada harga Rp 30.000 per kg.

Kenaikan harga di tingkat peternak unggas, menurut Agung Suganda, selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) memberi harapan kebangkitan bagi kalangan peternak.

"Untuk ayam di tingkat peternak harganya alhamdulillah per hari ini sudah Rp 22.000 dan sesuai dengan target kita. Kemudian kalau telur tadi masih sekitar Rp 22.000 juga," tukas Agung.

Related News