Pantauan Harga Bawang Putih Pasar Kramat Jati
Jagad Tani - Sepanjang bulan Juli 2026, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) komoditas bawang putih masih mengalami peningkatan, guna mengatasi Indeks Perkembangan Harga (IPH) pemantauan kondisi harga di tingkat pedagang grosir diberlakukan.
Pihak Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Dinas KPKP) Provinsi DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya, memantau bila pasokan bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) Jakarta masih terbilang aman.
Baca juga: Industri Bulu Bebek Menggeliat di Pasar Global
Menurut I Gusti Ketut Astawa selaku Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, harga bawang putih jenis honan terpantau stabil. Akan tetapi, untuk jenis bawang putih kating yang lebih digemari masyarakat perlu pasokan yang lebih massif.
"Harga bawang putih memang trennya agak sedikit naik. Kami tanya langsung ke pedagang bawang putih, disini memang ada 2 kategori, kalau bicara bawang putih honan relatif stabil. Kemudian yang kating memang relatif agak tinggi," ucap Ketut dikutip Jumat (24/7).
Adapun harga bawang putih jenis honan di PIKJ terpantau alami penurunan dari Rp23.000 per kg menjadi Rp22.500 per kg. Sementara bawang putih jenis kating yang lebih digemari masyarakat perlu ada penambahan stok ke pasar tingkat distributor pertama seperti PIKJ.
"Memang pasokan kating kemungkinan dari luar negeri agak sedikit. Di samping itu, di Jakarta jenis kating sangat digemari oleh masyarakat," ungkap Ketut.
Lebih lanjut, bila melihat kondisi terkini, Ketut menyebutkan jika pihaknya akan kembali rapat dengan para importir guna meminta dan memantau sekaligus meneliti posisi harga sebenarnya dari bawang kating ini seperti apa.
"Dengan posisi PIKJ yang stoknya relatif stabil, mudah-mudahan ke depan, harga bisa kita kendalikan dengan baik. Ini karena PIKJ distribusinya tidak hanya Jakarta tapi ke berbagai wilayah. Ini tentu menjadi barometer," tambah dia.
Memastikan stok bawang putih di PIKJ stabil, dinilai dapat memiliki efek berantai bagi wilayah lainnya. Terlebih harga bawang putih untuk wilayah Indonesia Timur sudah mencatatkan fluktuasi harga yang cukup signifikan.
"Tatkala kita bisa mengendalikan para distributor kemudian para grosir, harapan kita harga di beberapa wilayah yang menjadi sebaran bawang putih dari PIKJ ini, relatif bisa kita stabilkan. Kita coba dulu selesaikan yang di sini, nanti akan berdampak di Indonesia Timur juga," tuturnya.
Melalui data Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026, kuota impor bawang putih konsumsi yang ditetapkan dalam Neraca Komoditas Tahun 2026, yakni sekitar 608,11 ribu ton dan impor bawang putih olahan 67,73 ribu ton.
Sementara itu, proyeksi produksi bawang putih dalam negeri diperkirakan akan mencapai 39,65 ribu ton dalam bentuk konde.
Ketut menambahkan juga bahwa pelibatan para importir dan distributor ini secara aktif. Sehingga pengoptimalan pasokan dari pengadaan luar negeri yang telah dipegang oleh para pelaku usaha, harusnya juga didistribusikan ke wilayah Indonesia Timur.
"Langkah pertama kami akan mengumpulkan para importir. Langkah kedua tentu dengan distributor. Nah setelah itu dilakukan pendistribusian ke wilayah-wilayah timur, karena tentu juga perlu kita jaga harga disana. Relatif distribusinya masih agak berat dan tentu kita harus carikan solusi," pungkasnya.

