Petani Sidrap Cari Solusi Hadapi Musim Kemarau
Jagad Tani - Menghadapi musim kemarau di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan (Sulsel), kelompok tani di Desa Damai, dan Talawe, Kecamatan Watang Sidenreng, mulai mencarikan solusinya.
Pada Kamis (23/7) malam, upaya untuk membahas berbagai solusi menghadapi dampak El Nino, akhirnya dilakukan pertemuan, pembahasannya mulai dari optimalisasi sumur bor, penyediaan jaringan listrik, hingga pengaturan tata kelola air.
Baca juga: Industri Bulu Bebek Menggeliat di Pasar Global
Syaharuddin Alrif, Bupati Sidrap, yang ikut serta dalam pertemuan, menyatakan pihaknya tidak akan membiarkan petani menghadapi dampak perubahan cuaca seorang diri, agar jalan keluar pertanaman padi di Desa Damai dan Talawe bisa terselamatkan.
"Sekarang ini kita sudah masuk musim pertanaman. Terutama di Desa Damai, tanaman yang ditanam pada bulan Mei kini sudah memasuki usia sekitar dua bulan. Ini adalah masa yang sangat membutuhkan air," ungkapnya melalui keterangan tertulis.
Sebagaimana dampak El Nino telah diprediksi, hampir seluruh wilayah Indonesia akan terkena, termasuk Kabupaten Sidrap. Sehingga Syaharuddin menilai salah satu langkahnya, yakni melalui program pengeboran sumur di areal persawahan Desa Damai.
"Alhamdulillah, program pengeboran di sawah di Desa Damai semuanya sudah berjalan. Ada yang sudah ada listriknya dan ada yang belum. Karena itu malam ini kita membahas bersama bagaimana agar air dari sumur bor ini bisa segera dimanfaatkan secara maksimal," tuturnya.
Secara rata-rata, ia menilai jika sumur bor yang dibangun memiliki debit air yang baik dan mampu bertahan lama sehingga menjadi modal penting untuk menyelamatkan pertanaman di tengah musim kemarau.
Selain itu, pihak Dinas Pertanian, camat, kepala desa, dan penyuluh juga diminta untuk segera mendata seluruh titik sumur bor yang telah siap dioperasikan maupun yang masih memerlukan jaringan listrik agar segera dikoordinasikan dengan PLN.
"Saya minta kepada Dinas Pertanian, Camat, Kepala Desa, dan Penyuluh untuk segera mendata. Mana yang sudah ada jaringan listriknya segera difungsikan. Yang belum, kita carikan solusinya bersama PLN," tegasnya.
Bukan cuma itu saja, para petani juga turut diimbau agar bisa mengatur pola tanam dan pembagian air secara bergiliran agar seluruh lahan tetap mendapatkan pasokan air.
"Kepada para petani, saya titip. Mari kita atur pola tanam, atur giliran air, dan saling bahu-membahu. Keberhasilan ada di tangan kita bersama. Saya yakin dengan kebersamaan dan kerja keras, pertanaman di Desa Damai dan Talawe insya Allah bisa kita selamatkan," ucapnya.
Sementara itu, Suriyanto selaku Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Sidrap, menjelaskan bila sebagian besar tanaman padi di wilayah tersebut telah memasuki umur lebih dari dua bulan.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa lahan pertanian pada saat ini sedang dalam fase puncak kebutuhan air, bahkan pada pertemuan bersama petani ini, juga sudah dilakukan secara bergilir di sejumlah kecamatan yang terdampak kemarau.
"Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan bersama kelompok tani di Kecamatan Watang Pulu dan Maritengngae, kemudian dilanjutkan di Kecamatan Kulo, sebelum akhirnya digelar di Desa Damai dan Talawe," katanya.
Menurutnya, berbagai langkah penanganan terus disiapkan pemerintah, mulai dari pengeboran sumur, normalisasi saluran irigasi, bantuan pompa air, hingga percepatan penyambungan listrik untuk sumur bor yang telah selesai dibangun.
"Mengenai listrik masuk sawah, kami paham pengerjaannya telah selesai. Akan tetapi tinggal menunggu pemasangan jaringan listrik. Mudah-mudahan dari pihak PLN segera terealisasi sehingga bisa segera dimanfaatkan oleh para petani," tukasnya.

