• 25 July 2026

Itik Pengging Soloan Disiapkan Jadi Ternak Unggulan

uploads/news/2026/07/itik-pengging-soloan-disiapkan-12952ca606da63f.jpg

Jagad Tani - Pemuliaan itik Pengging Soloan, menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas plasma nutfah ternak lokal, sekaligus menghasilkan galur (bibit) unggul itik lokal yang berproduktivitas tinggi, adaptif, dengan karakter genetik khasnya. 

Slamet Hartanto, peneliti Pusat Riset Peternakan, dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pengembangan itik Pengging Soloan dikarenakan semakin tingginya kebutuhan masyarakat pada unggas lokal, tapi belum diimbangi oleh ketersediaan produk yang berkualitas.

Baca juga:Letupan Gas, Ikan Danau Batur Mati Massal

Tantangan ini semakin diperberat oleh degradasi (penurunan) genetik yang memicu disparitas (perbedaan) tingkat produktivitas antar-generasi, sehingga secara langsung mengancam kelestarian plasma nutfah endemik tersebut.

“Oleh karenanya, diperlukan strategi pembibitan yang mengintegrasikan sistem pemuliaan tradisional dengan teknologi modern berbasis sains,” ungkap Slamet melansir dari BRIN, Sabtu (25/7).

Oleh karena itu, penelitian ini dinilai tidak hanya diarahkan untuk melestarikan plasma nutfah lokal saja, tetapi juga merakit galur unggul baru yang memiliki produktivitas lebih baik.

“Pada tahap akhir, hasil penelitian akan dihilirisasi menjadi model pembibitan unggas lokal yang komprehensif, adaptif, dan berkelanjutan sehingga dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat,” terangnya.

Pengembangan itik Pengging Soloan tersebut merupakan kelanjutan dari kolaborasi riset yang menghasilkan ayam lokal Maron unggul, sehingga tidak hanya meningkatkan kualitas genetik ternak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi peternak, utamanya untuk mempercepat lahirnya galur unggul itik lokal Jawa Tengah.

Menurut Defransisco Dasilva Tavares, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, kolaborasi antara pemerintah daerah, BRIN, dan perguruan tinggi telah mengubah paradigma bahwa hasil penelitian hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah. 

Satuan Kerja Taman Ternak di Jawa Tengah juga diinstruksikan agar bertransformasi menjadi “centre of change” atau pusat perubahan, yang mengoptimalkan peran pendampingan serta keahlian tim peneliti BRIN dan sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi.

“Hilirisasi hasil riset telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu genetik ternak dan kesejahteraan peternak. Mendorong seluruh satuan kerja pembibitan ternak di Jawa Tengah menjadi pusat perubahan melalui penguatan pendampingan berbasis riset dan inovasi,” jelasnya.

Bahkan dalam forum Sinergi Pembibitan Unggas Lokal Berbasis Riset dan Inovasi yang digelar di Satuan Kerja Taman Ternak Itik Banyubiru, Kabupaten Semarang pada Kamis (23/6) lalu, dilakukan prosesi panen perdana Day-Old-Duck (DOD) atau anak itik usia sehari dari calon galur unggul lokal itik Pengging Soloan generasi ketiga (G3). 

Sementara itu, Santoso, Kepala Pusat Riset Peternakan, BRIN, menilai jika peningkatan daya saing plasma nutfah lokal ini diharapkan agar bisa sejajar dengan ternak unggulan mancanegara.

“Memadukan metode pemuliaan teknik konvensional dengan teknologi mutakhir, seperti genomic editing dan stem cell, (berfungsi) untuk mempercepat peningkatan mutu genetik ternak lokal,” tukasnya.

Selain itu ditambahkan jika BRIN siap bekerjasama terkait sistem deteksi jenis kelamin unggas di dalam telur yang terintegrasi secara web-based, dan juga riset rekayasa genetik sapi lokal double muscle (berotot ganda) guna memacu produksi daging nasional yang galurnya ditargetkan rilis secara resmi pada tahun 2029.

Related News