• 27 July 2026

Budi Daya Lobster Batam Bernilai Ekonomi Tinggi

uploads/news/2026/07/budi-daya-lobster-batam-89742c5d97f3520.jpeg

Jagad Tani - Modeling Budi Daya Lobster yang dikembangkan di Batam, Kepulauan Riau, menunjukkan produktivitas yang menjanjikan dan diproyeksikan panen kembali pada September mendatang. 

Jumlah Keramba Jaring Apung (KJA) yang terdiri dari 116 unit ukuran L dan 56 unit ukuran M ini, berisi lobster-lobster yang dibesarkan sejak Oktober tahun lalu. Untuk KJA ukuran L, lobster rata-rata berbobot 150–200 gram per ekor.

Baca juga: Rehabilitasi Topang Produktivitas, 19,26% Mangrove Indonesia Kritis

Dadang M. Naser, anggota Komisi IV DPR RI, berkunjung ke lokasi Modeling Budi Daya Lobster di Balai Perikanan Budi Daya Laut (BPBL) Batam, mengapresiasi budidaya lobster yang telah dilakukan sejak dari benih bening lobster (BBL).

Menurutnya, dengan dukungan teknologi dan pengelolaan yang baik, budidaya dari fase yang selama ini sulit dilakukan lantaran kecilnya tingkat hidup BBL dan keterbatasan pakan.

“Hal yang juga harus terus diperkuat adalah ketersediaan pakan. Di sini sudah ada kerja sama dengan masyarakat melalui budi daya kerang sebagai sumber pakan lobster,” ujar Dadang M. Naser dalam siaran resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, dikutip Senin (27/7). 

Selain itu, perluasan budi daya lobster sebagai sumber daya yang dimiliki Indonesia, dinilai dapat menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Senada dengan hal itu, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, mengatakan modeling budi daya lobster di Batam memang dirancang sebagai percontohan penerapan teknologi budi daya lobster yang dapat direplikasi di berbagai daerah potensial.

Diakatakan bahwa, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dipilih sebagai lokasi modeling karena memiliki daya dukung lingkungan yang baik, dekat dengan pasar, serta didukung ketersediaan pakan melalui pengembangan budi daya kekerangan yang melibatkan masyarakat pesisir.

"Dengan dukungan regulasi, teknologi, pakan, sumber daya manusia, dan pasar, budi daya lobster dapat menjadi penggerak ekonomi pesisir sekaligus memperkuat produksi perikanan nasional,” ucap Tebe.

Modeling budi daya lobster BPBL Batam dikelola di kawasan seluas tiga hektare dan dilengkapi dengan unit nursery serta fasilitas penyimpanan dingin atau cold room.

Ditambahkan oleh Tebe, teknologi pendederan yang diterapkan mampu menghasilkan benih lobster berukuran lima gram untuk memasuki tahap pembesaran. Produktivitasnya pun ditargetkan mencapai 40 kilogram per lubang KJA berukuran 3 x 3 meter.

Pengembangan budi daya lobster ini juga dianggap sebagai bagian dari strategi ekonomi biru yang mengintegrasikan keberlanjutan ekologi, peningkatan produksi, inovasi teknologi, dan penciptaan nilai tambah ekonomi.

Selain lobster, BPBL Batam mengembangkan komoditas bawal bintang dan kakap putih. Hasil produksi ketiga komoditas tersebut terserap di pasar Kota Batam, termasuk untuk memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat pada momentum tertentu, seperti perayaan Imlek. 

“Kita ingin potensi BBL tidak berhenti sebagai benih, tetapi dibesarkan menjadi lobster bernilai ekonomi tinggi di dalam negeri," pungkas Tebe. 

Related News