Jagad Tani - Permasalahan monyet ekor panjang (MEP) yang kerap merusak lahan pertanian milik warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tentunya harus dicarikan solusi penanganan yang tepat.
Endah Subekti Kuntariningsih, Bupati Gunungkidul dalam keterangannya melalui Antara, Rabu (29/7), mengatakan jika luas kawasan hutan di wilayahnya mencapai 88,56% dari total kawasan hutan di DIY, mayoritas vegetasi berupa pohon jati, dan membuat sumber makanan MEP jadi kurang tersedia.
Baca juga: Dukung Sektor Pertanian, Sailun Hadirkan Ban MAXAM
Kondisi yang menyebabkan populasi MEP di kawasan hutan Gunungkidul kekurangan sumber pakan alami inilah yang membuat MEP masuk ke lahan pertanian warga. "Mayoritas lahan tersebut merupakan hutan jati yang tidak menyediakan sumber pangan alami bagi primata," ungkap Endah.
Selain itu, dilanjutkan bahwa MEP ini memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, sehingga mereka tidak lagi takut terhadap suara petasan maupun senjata mainan, bahkan mampu mengenali jadwal pemberian bantuan pakan.
Lebih lanjut Endah mengatakan, solusi yang telah dilakukan adalah dengan memberi bantuan makanan, Namun hal ini tidaklah instan, karena membutuhkan perhitungan anggaran yang detail, dan MEP merupakan satwa yang dilindungi sehingga penanganannya harus dilakukan dengan pendekatan yang terukur.
Adapun untuk strategi penanganan, menurutnya, disusun dalam tiga tahapan, yakni jangka pendek melalui pemberian pakan di titik-titik tertentu, jangka menengah dengan membangun kawasan sumber pangan permanen melalui penanaman pohon buah hutan, dan jangka panjang berupa restorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan.
"Jangka menengah dengan pembentukan satuan pangan permanen dengan menanam pohon buah hutan dan jangka panjangnya merestorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan secara menyeluruh agar mengembalikan monyet ke habitat aslinya," terangnya.
Sementara itu, Edy Basuki, yang merupakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menyebutkan jika upaya pengendalian MEP melalui pemberian pakan tambahan secara manual telah dilakukan sejak tahun lalu.
Akan tetapi, berdasarkan hasil kajian, metode tersebut dinilai belum terlalu efektif, walaupun mampu mengurangi tingkat kerusakan tanaman di sejumlah lokasi. Untuk persebarannya, MEP ada di hampir 80 kelurahan di Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah populasi sekitar 1.000 ekor.
Untuk tanaman yang paling banyak dirusak oleh MEP, merupakan jenis tanaman seperti jagung, kacang-kacangan, serta ketela, tanaman tersebut umumnya berada di kawasan selatan Gunungkidul.
"Kalau menurut kajian memang kurang efektif, tapi paling tidak pada waktu itu di wilayah tersebut tingkat kerusakan lahannya agak berkurang. Kalau di wilayah kita itu, terutama di wilayah selatan," ujarnya.
Bahkan Edy menjelaskan bila pihaknya telah bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) guna menyusun strategi penanganan, salah satunya melalui penanaman pohon yang menghasilkan buah sebagai sumber pakan alami MEP di habitatnya.
"Kemarin dari Kehutanan UGM juga menyampaikan penanaman pohon yang buahnya bisa dimakan oleh MEP itu, sehingga MEP tidak merusak tanaman warga," Pungkasnya.

