• 3 August 2026

Strategi Atasi Fluktuasi Harga Saat El-Nino Disiapkan

uploads/news/2026/08/strategi-atasi-fluktuasi-harga-826853a090168be.jpeg

Jagad Tani - Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi iklim Indonesia telah memasuki masa aktif El Nino tahun 2026 dan diprediksi akan berpotensi mencapai level kuat. 

Kondisi ini diprediksi dapat memicu kemarau dengan durasi yang lebih panjang di sebagian wilayah Indonesia. Melalui pemantauan BMKG, Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral dan diprediksi berkembang menuju fase positif pada periode September hingga Desember 2026. 

Baca juga: Cilegon Terbitkan Surat Edaran untuk Tanam Cabai

Sebelumnya, BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus, meliputi 48,84% wilayah serta September mencakup 25,41% wilayah daratan. BMKG juga memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitasnya mencapai kategori sangat kuat hingga 75%.

Menanggapi hal tersebut, pihak Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengaku telah siap menjalankan strategi pengendalian atas kemungkinan terjadinya fluktuasi harga pangan pokok, terutama beras. Karena kondisi perberasan dinilai masih cukup dan terjadi pertumbuhan harga Gabah Kering Panen (GKP) tingkat petani.

"GKP tingkat petani posisi paling rendah itu di Sulawesi Tenggara Rp 6.500. Kemudian yang paling tinggi ada Rp 7.600, walaupun sebenarnya ada juga beberapa daerah di Jawa hampir Rp 7.700," ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikutip Senin (3/8).

Kondisi GKP yang cukup baik saat ini, dinilai Ketut memang sedang dalam harga yang relatif bagus bagi petani, akan tetapi berdampak pada harga beras di penggilingan.

Dalam pantauan Bapanas, per 30 Juli setidaknya tercatat rerata harga beras medium dan premium di tingkat penggilingan secara nasional masing-masing berada di Rp 13.251 per kilogram (kg) dan Rp 14.673 per kg.

Meski demikian, rerata harga beras medium secara nasional di tingkat konsumen masih terkendali. Hanya rerata harga beras premium yang sedikit melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Beras memang ada beberapa yang agak naik sedikit tapi cukup stabil. Namun demikian, pertama Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digencarkan pemerintah. Kedua, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium digencarkan ke pasar-pasar," terang Ketut.

Kemudian dilanjutkan bahwa program bantuan pangan beras tahap kedua untuk bulan Agustus akan digeber, mulai dari GPM, penyaluran SPHP, dan bantuan pangan, akan segera digerakkan secara masif.

Adapun realisasi GPM sejak Januari hingga akhir Juli sudah berada di angka 6.589 kali yang digelar di 38 provinsi dan 448 kabupaten/kota. Sementara penggelontoran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ke masyarakat Januari-Juli totalnya mencapai 1,43 juta ton.

Angka tersebut berasal dari realisasi penjualan beras SPHP Januari-Februari 2026, yakni sebanyak 221,05 ribu ton yang merupakan perpanjangan program SPHP beras tahun 2025. Untuk realisasi SPHP beras Maret-Juli 2026 telah mencapai 552,38 ribu ton, ditambah realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,88 ribu ton.

Jumlah di atas belum termasuk rencana salur bantuan pangan beras tahap kedua sebanyak 997,2 ribu ton kepada 33,24 juta keluarga, masing-masing 10 kg dengan alokasi 3 bulan, nantinya penyaluran CBP akan mencapai lebih dari 2 juta ton dari total stok saat ini yang masih ada di angka 5,25 juta ton.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras hingga minggu keempat Juli tercatat ada peningkatan jumlah kabupaten/kota yang mengalami penurunan IPH sebanyak 43 kabupaten/kota. Sementara periode mingguan sebelumnya berada di 40 dan 41 kabupaten/kota saja.

Sedangkan dari tingkat inflasi beras sampai Juni masih cukup terkendali. Data BPS menunjukkan inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,98%, angka tersebut mulai melandai 0,57% lebih rendah jika dibandingkan bulan Mei 2026 yang mencapai 4,55%.

Sementara itu, untuk tingkat inflasi beras secara bulanan (month-to-month/mtm) sampai Juni 2026 berada di 0,45%. Indeks tersebut masih berada di bawah level 1%, sehingga mencerminkan pergerakan harga beras yang relatif masih terkendali.

 

Related News