• 4 August 2026

Riset Ungkap Cara Jitu Budidaya Bawang Merah

uploads/news/2026/08/riset-ungkap-cara-jitu-24745209e05b921.jpeg

Jagad Tani - Dalam rangka untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida serta peningkatan produktivitas bawang merah, para periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan berbagai penelitian yang telah diuji langsung di lahan petani.

Bahkan Joko Pramono, selaku peneliti dari Pusat Riset Holtikultura BRIN, menjelaskan bahwa hasil riset budidaya bawang merah yang telah dilakukan bersama timnya selama empat tahun terakhir, kini mulai menunjukkan hasil.

Baca juga: Petani Panduani Kepulauan Yapen, Papua, Panen Padi

“Pada tahun pertama, kami menemukan bahwa penggunaan benih berupa umbi berukuran besar mampu menghasilkan panen lebih tinggi dibandingkan umbi berukuran sedang maupun kecil. Oleh karena itu, kami merekomendasikan petani menyeleksi benih dengan memilih umbi berukuran besar atau sedang untuk ditanam,” ungkap Joko, dikutip dari BRIN Senin (4/8). 

Adapun pada tahun kedua, timnya mengembangkan teknologi penggunaan kerodong (netting house) sebagai pelindung tanaman untuk mengendalikan hama. Hasilnya menunjukkan teknologi ini mampu mengurangi frekuensi penyemprotan pestisida hingga 50%.

Selain itu, hal tersebut juga mampu meningkatkan produktivitas dari sekitar 9,4 ton/ha menjadi 16,6 ton/ha, dan melalui kerodong ini serangan ulat daun (Spodoptera exigua) berhasil ditekan, sehingga menghemat biaya pembelian insektisida. 

Sedangkan pada tahun ketiga, timnya turut menguji sistem tumpangsari bawang merah dengan jagung. Meskipun cara tersebut berhasil menekan serangan hama ulat daun, akan tetapi hasil panen bawang merah justru menurun, karena efek naungan.

“Berdasarkan temuan tersebut, kami merekomendasikan petani menanam jagung sebagai border atau tanaman pembatas di sekeliling lahan minimal 2 minggu sebelum tanam bawang merah, agar pengendalian hama tetap efektif tanpa mengurangi produktivitas bawang merah,” terangnya.

Lebih lanjut Joko menjelaskan, pada tahun keempat, timnya melanjutkan penelitian melalui penerapan solarisasi lahan dan penggunaan biochar. Berdasarkan pengamatan sementara, hasilnya menunjukkan bahwa metode ini mampu menekan penyakit yang disebabkan jamur dan bakteri. 

“Kami akan mengevaluasi dampaknya setelah panen yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus 2026,” papar Joko.

Sementara itu, Rini Murtiningsih, yang juga Periset Pusat Riset Holtikultura BRIN mengungkapkan bahwa keberhasilan penggunaan kerodong sangat bergantung pada cara penggunaannya.

“Kerodong harus menutup rapat pertanaman, agar ngengat tidak dapat masuk. Selain itu, penggunaan kerodong dengan lubang lebih rapat dapat menghambat masuknya hama berukuran kecil,” jelas Rini.

Rini berpendapat, meski investasi awal relatif tinggi, namun, alat itu dapat digunakan sampai enam hingga sepuluh musim tanam, tergantung dari hasil pemeliharaan di lapangan. Sistem penyewaan kerodong melalui kelompok tani bisa menjadi solusi agar teknologi ini semakin mudah diakses oleh petani. 

Selain itu, Rini turut menjelaskan soal teknik irigasi tetes yang dipadukan dengan pemupukan efisien, supaya dapat diterapkan dalam peningkatan produktivitas bawang merah. 

Begitu juga dengan Asep Kurnia, Periset Pusat Riset Holtikultura BRIN dalam pemaparannya tentang residu pestisida dan kondisi bahan organik tanah di sentra bawang merah Brebes.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa residu ada beberapa jenis pestisida yang telah lama dilarang masih terdeteksi di dalam tanah. Selain itu, hampir seluruh lokasi survei juga menunjukkan adanya residu pestisida pada tanaman.

“Temuan tersebut menjadi pengingat penting bahwa pemulihan kualitas tanah harus menjadi bagian dari sistem budidaya bawang merah berkelanjutan,” imbuhnya.

Dikatakan Asep, kandungan bahan organik tanah di Brebes saat ini masih tergolong rendah, sehingga diperlukan upaya pemulihan secara bertahap lewat penambahan bahan organik yang terfermentasi sempurna serta pengelolaan pH tanah menggunakan dolomit agar kesuburan tanah bisa kembali meningkat.

Sedangkan Arlyna Budi Pustika, Periset Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN selaku penanggung jawab kegiatan riset mengungkapkan, kegiatan yang dilakukan bersama timnya merupakan bagian dari riset SLAM ACIAR, di Desa Tanjungsari, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. 

“Bimtek bertujuan untuk mendiseminasikan hasil riset BRIN kepada petani, penyuluh Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Dinas Pertanian dengan bahasa yang mudah dipahami serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan budidaya bawang merah bagi peserta kegiatan," jelasnya. 

Melalui rangkaian penelitian tersebut, Arlyna menilai, pihaknya ingin menghadirkan solusi, untuk membantu petani dalam meningkatkan produktivitas bawang merah, mengurangi penggunaan pestisida, menjaga kesehatan lingkungan, serta mendukung terwujudnya pertanian yang lebih berkelanjutan di Indonesia. 

"Kami berharap hasil riset BRIN memberikan dampak sosial yang lebih luas kepada masyarakat pertanian di Brebes,” tukasnya.

Related News