Minyak Akar Wangi, Komoditas Unggulan dari Garut
Jagad Tani - Komoditas minyak akar wangi (Vetiveria zizanioide) dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, bukan sekadar komoditas perdagangan biasa, melainkan bagian dari identitas kebudayaan Indonesia yang harus terus didorong perkembangannya.
Tak main-main, Kabupaten Garut bahkan dikenal sebagai sentra produksi minyak atsiri jenis vetiver (akar wangi) terbesar di Indonesia dengan kontribusi sebesar 90% dari total produksi Nasional. Dalam catatan Indonesia Kaya, akar wangi hanya tumbuh subur di tiga wilayah di dunia, yakni Haiti, Jamaika, dan Indonesia.
Baca juga: Petani Tembakau Bojonegoro Disalurkan Bantuan Pupuk NPK
Berdasarkan keputusan Bupati Kabupaten Garut Nomor: 520/SK.196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996, diantaranya menetapkan luas areal perkebunan akar wangi dan pengembangannya oleh masyarakat, yakni seluas 2.400 Ha.
Luasan tersebut, tersebar di empat kecamatan, meliputi kecamatan Samarang 750 ha, Bayongbong 210 ha, Cilawu 240 ha, dan Leles 750 ha. Dalam setahun tercatat, dari 2.400 ha luas garapan perkebunan akar wangi, jumlah produksi minyak akar wanginya mencapai 72 Ton.
Adapun rinciannya, dari luasan lahan tersebut, Kecamatan Cilawu menghasilkan produksi minyak akar wangi sebanyak 7,2 ton, Kecamaran Bayongbong 6,3 ton, Kecamatan Semarang 22,5 ton, Kecamatan Pasirwangi 13,5 ton, dan Kecamatan Leles 22,5 ton.
Bahkan ada sebanyak 4.027 keluarga yang terlibat dalam pengembangan akar wangi, dan terdiri dari 1.964 orang sebagai pemilik dan 2.063 orang sebagai petani atau penggarap. Mereka ini tergabung ke dalam 28 kelompok tani.
Sebarannya meliputi 18 kelompok tani berada di Kecamatan Samarang dan Pasirwangi, 5 di Kecamatan Leles, 4 di Kecamatan Cilawu dan 1 di Bayongbong. Sedangkan jumlah pengolah atau penyulingnya, ada 33 unit di Kecamatan Samarang, 21 di Pasirwangi, 9 di Leles, 1 di Bayongbong, serta 2 unit di Cilawu.
Melalui catatan tertulis Pemkab Garut, pasar luar negeri yang menyerap produk minyak akar wangi dari Garut yakni para pengusaha dari kawasan Asia, Eropa dan Amerika khususnya negara-negara seperti Singapura, India, Jepang, Hongkong, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Swiss, dan Amerika Serikat.
Tanaman yang berjuluk Java Vetiver Oil ini banyak dimanfaatkan untuk pewangi berbagai produk, mulai dari parfum, kosmetik, pewangi pakaian, dan sabun. Bahkan untuk obat-obatan seperti obat sakit gigi, rematik, dan penghilang bau mulut.
Bukan cuma itu saja, akar wangi juga bisa digunakan untuk aroma terapi. Selain itu, daun dan batangnya pun bisa digunakan sebagai bahan baku kerajinan seperti tas, maupun produk pajangan.
"Proses pengolahan atau penyulingan akar wangi menjadi minyak (Foto: Candra Yanuarsyah/Antara Foto)"Menurut Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, pentingnya multi-track diplomacy agar kerja sama internasional berdampak bagi pembangunan daerah, sehingga potensi khas Garut jadi senjata ampuh dalam diplomasi luar negeri.
"Diplomasi kebudayaan dan kemitraan global ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs). Peluang Garut sangat banyak, tinggal bagaimana kita merajut kemitraan ini bersama-sama," jelas Irine di Parlementeria, Kamis (7/8).
Merujuk pada laporan Mongabay, para petani, biasa menjual minyak jadi dengan harga Rp2,7-3,5 juta per liter, dan mentahannya dijual seharga Rp7.000-Rp8.000 setiap kilogram akar. Untuk penyulingan lewat mesin ketel berkapasitas 1,5 ton, dalam 1 ton bahan mentah, bisa menghasilkan 10-15 kilogram minyak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ada beberapa wilayah lain di Jawa Barat (Jabar) yang juga menghasilkan akar wangi, meskipun tak sebesar Garut. Di antaranya Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Majalengka, Subang, Bandung Barat, Pangandaran, Kota Bandung, serta Sumedang.
Hal ini tentu menjadikan Garut memiliki potensi untuk meningkatkan tarap ekonomi masyarakatnya, karena selain dikenal dengan Dodol Garut, Domba Garut dan Pangkas Rambut Asli Garut (Asgar), potensi bahan baku akar wanginya pun sudah mengungguli wilayah lain, ditambah harga jualnya yang cukup tinggi, sehingga hal ini menjadi nilai tambah bagi Bumi Swiss van Java ini.

