• 8 August 2026

KPH Mantingan Lakukan Antisipasi Karhutla

uploads/news/2026/08/kph-mantingan-lakukan-antisipasi-96469f27277fefc.jpg

Jagad Tani - Memasuki puncak musim kemarau 2026, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan melakukan komunikasi sosial (Komsos) di Pos 63 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Gaplokan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kalinanas, Jumat (7/8) sore.

Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kalinanas, Suroto, menyampaikan terkait sejumlah langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kepada petani hutan dan pesanggem.

Baca juga: Petani Tembakau Bojonegoro Disalurkan Bantuan Pupuk NPK

Menurutnya, pencegahan dimulai dari larangan membakar saat pembukaan lahan, pembakaran serasah, menyalakan api unggun saat berada di kawasan hutan, dan tentunya diminta segera melapor dalam waktu 1 x 24 jam, apabila melihat titik asap atau api ke petugas Pos 63 atau KRPH setempat.

Hal tersebut dikarenakan wilayah RPH Gaplokan merupakan salah satu kawasan rawan Karhutla di BKPH Kalinanas, dan berbatasan langsung dengan lahan tegalan warga dan memiliki hamparan serasah jati yang kering.

“Saya tegaskan bahwa selama musim kemarau ini tidak boleh ada api di petak. Pos 63 ini rawan karena serasahnya tebal. Saya meminta petani hutan menjadi garda terdepan. Jika melihat asap, segera padamkan," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, "Jika api membesar, segera laporkan kepada kami. Peralatan seperti gepyok dan jet shooter sudah kami siapkan. Menjaga hutan sama dengan menjaga lahan tumpangsari. Karhutla harus kita cegah bersama."

Tercatat kawasan rawan Karhutla, mencapai 210 ha, yang tersebar di RPH Gaplokan, RPH Kalinanas, dan RPH Kedungbacin. Menurutnya, hingga awal Agustus 2026, KPH Mantingan masih aman dari Karhutla, berkat patroli gabungan antara Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dan pesanggem.

Sementara itu, Jito, salah seorang petani hutan, para pesanggem RPH Gaplokan menyatakan kesiapan menjadi mitra Perhutani dalam memantau dan menjaga kawasan hutan. Sebab, lahan tumpangsarinya berada di Petak 63C yang berbatasan langsung dengan tegakan jati produktif.

“Kami petani di sini siap membantu menjaga hutan. Lahan jagung saya di Petak 63C berdekatan dengan tanaman jati. Kalau terjadi kebakaran, saya juga akan rugi karena tidak bisa panen," terangnya. 

Dilanjutkan bahwa, terjadinya kebakaran, tentu tidak hanya mengancam tanaman jati, tetapi juga dapat menyebabkan kerugian bagi pesanggem karena tanaman pertanian turut berpotensi terbakar.

"Kami sudah sepakat untuk tidak membakar sampah, melakukan patroli secara bergantian, dan apabila melihat asap akan segera melakukan pemadaman bersama-sama. Nomor telepon Pak KRPH juga sudah kami simpan. Pokoknya, kami ingin Gaplokan aman dari api,” tukas Jito.

Related News