• 10 August 2026

Peternak Bagikan 1500-an Ayam Petelur di Malioboro

uploads/news/2026/08/peternak-bagikan-1500-an-ayam-65037114e5e5990.jpg

Jagad Tani - Akibat dari tingginya biaya pakan, anjloknya harga telur, dan kelebihan pasokan (over supply) yang semakin menekan keberlangsungan usaha peternak, Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta (P3Y)  menyampaikan  aspirasi di depan gedung DPRD DIY, Senin (10/8).

Dalam aksinya, peternak membagikan ayam petelur sekitar 1.500 ekor ayam kepada masyarakat, yang dilakukan di sepanjang Jalan Malioboro, oleh peternak dari Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunungkidul sebagai aspirasi atas kondisi peternakan ayam petelur yang tengah mengalami tekanan.

Baca juga: Masyarakat Desa Juru Seberang Manfaatkan Ruang Laut

Pada akhirnya, audiensi dilakukan di Ruang Banggar Lt. 2 DPRD DIY. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan peternak menyampaikan persoalan yang dihadapi, mulai dari anjloknya harga telur, tingginya biaya pakan, hingga kelebihan pasokan atau over supply.

Subandi, selaku Koordinator Paguyuban Peternak Ayam Petelur Gunungkidul, mengatakan, rendahnya harga telur tidak sebanding dengan biaya operasional jadi persoalan utama peternak saat ini, dan pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah untuk mengendalikan keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar.

“Permasalahan peternak sekarang harga telur murah, sementara biaya operasional mahal. Harapan kami pemerintah bisa mengambil langkah untuk mengatasi persoalan ini, termasuk menjaga keseimbangan supply and demand karena populasi ayam saat ini sudah berlebih,” ungkapnya.

Saat ini, harga telur di tingkat peternak berada di kisaran harga Rp20.000–Rp21.000 per kilogram, sementara harga pokok produksi (HPP) mencapai sekitar Rp24.000–Rp26.500 per kilogram. Kondisi ini membuat laju usaha peternakan semakin tertekan, terlebih harga jagung dan konsentrat sebagai bahan utama pakan masih relatif tinggi.

Terkait pembagian ayam, menurut Subandi, merupakan salah satu langkah peternak untuk mengurangi populasi ayam yang sudah tua dan tidak lagi produktif, sehingga, diharapkan dapat mengurangi beban kerugian peternak dan menekan produksi agar pasokan telur tidak semakin berlebih.

Selain biaya produksi, peternak juga menyoroti kelebihan pasokan juga menjadi faktor penyebab harga telur anjlok. Penambahan populasi ayam petelur melalui sejumlah program bantuan, dinilai perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar agar tidak semakin menekan peternak mandiri.

Sementara itu, Sofyan Setyo Darmawan, Anggota Komisi A DPRD DIY, menilai pemerintah perlu mendorong ketersediaan pakan dengan harga yang lebih terjangkau, dan intervensi dari pihak pemerintah diperlukan, apabila harga pakan sudah terlalu membebani peternak.

“Kalau memang memerlukan intervensi pemerintah, pemerintah harus segera turun tangan. Bagaimana agar harga pakan ini lebih terjangkau sehingga peternak kita bisa tetap tumbuh dan pasar telur tetap berjalan,” terang Sofyan.

Pada tahun 2025, biaya pakan gabungan (jagung, konsentrat, dan katul) berada di kisaran Rp6.200 per kilogram. Saat itu, harga telur di tingkat peternak berkisar antara Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Tentunya, selisih tersebut masih memberikan ruang keuntungan yang wajar.

Akan tetapi, pada saat ini, harga masing-masing komponen pakan naik, sebab harga jagung mencapai Rp7.000 per kg, katul seharga Rp5.000 per kg, dan konsentrat menembus hampir Rp500.000 per sak. Kenaikan harga bahan baku ini mendorong biaya pakan naik hingga menyentuh angka Rp8.000 per kilogram.

Adapun Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Agung Ludiro, mengatakan perlunya menyerap telur langsung dari produsen, saat kondisi harga yang tidak menguntungkan peternak, dan Bulog mendapat penugasan untuk menyerap dan menyalurkan jagung bagi peternak dengan target mencapai 4.164 ton di tahun 2026.

“Ketika harga telur di tingkat peternak turun, kami terus mendorong penyerapan langsung dari produsen. Untuk pakan, Bulog juga mendapat penugasan menyalurkan jagung kepada peternak agar kebutuhan pakan dapat lebih terjamin,” tandas Agung.

 

 

Related News