• 16 August 2026

Nelayan Sudah Diperbolehkan Melaut, Pasca Gempa NTT

uploads/news/2026/08/peringatan-tsunami-berakhir-nelayan-40981e80ec60986.jpg

Jagad Tani - Setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan berakhirnya Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB, akibat gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT), masyarakat pesisir dipersilahkan untuk kembali melaut. 

Hal tersebut disampaikan Wijayanto, selaku Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dalam keterangan persnya secara virtual pada Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8). 

Baca juga: Pelabuhan Laurentius Say Diguncang Gempa 7,7 Magnitudo

“Jadi peringatan ini sudah berakhir, berarti bahaya tsunaminya sendiri sudah kita akhiri, sudah tidak berbahaya. Mungkin masyarakat untuk aktivitas di nelayan dan sebagainya sudah bisa beraktivitas normal," ungkap Wijayanto.

Bahkan Wijayanto turut mengimbau agar masyarakat sebaiknya menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan, seperti keretakan, karena ditakutkan, bangunan tersebut berpotensi akan roboh dan bisa menyebabkan korban baru.

"Tadi sudah disampaikan bagi masyarakat yang rumahnya ada kerusakan ada retak tentunya harus tetap waspada jangan kembali ke lokasi dulu. Jadi ini masih ada terus nanti sambil memonitor informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG," ujarnya.

Menurut Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama,  BMKG telah mengidentifikasi bahwa gempa bumi dangkal yang berkedalaman 15 km ini episenter gempanya berada di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, atau 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.

Dalam laporan terbaru dari BMKG, tercatat ada sebanyak 235 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks) hingga pukul 14.00 WIB pasca gempa tektonik utama di utara Pulau Flores, NTT.

“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi. Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab," lanjutnya. 

Aktivitas gempa susulan tersebut terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo 2,5 Magnitudo hingga 6,2 Magnitudo. Grafik pemantauan mengindikasikan bahwa tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan.

Sementara itu Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar, Teuku Faisal Fathani. 

Sebelumnya, BMKG mengonfirmasi gempa bumi tektonik  tersebut ada di 7,7 Magnitudo dengan kedalaman 15 km. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian secara cepat dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik pasca gempa utama.

Guncangan gempa itu sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang beberapa kawasan pesisir. BMKG menguji sistem running model multi-skenario dan membagi status ancaman ke dalam kategori ‘Siaga’ (potensi tinggi 0,5 meter hingga 3 meter) serta ‘Waspada’ (ketinggian di bawah 0,5 meter).

Jaringan observasi muka air laut (tide gauge) mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter.

Faisal menjelaskan bahwa BMKG setelah pemantauan muka laut mengonfirmasi kondisi air laut telah aman kembali, dan gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust).

Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa 7,8 Magnitudo pada kedalaman 28 km yang melanda kawasan tersebut pada tahun 1992 lalu.

Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), tercatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng.

Sementara itu, untuk Skala VI MMI terukur berada di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa. Sedangkan pada skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan seperti Kota Ende, Kota Borong dan Kota Ruteng.

Related News