• 17 August 2026

Pramuka Beternak, Langkah Jambore Kenalkan Ketahanan Pangan

Jagad Tani -  Gerakan Pramuka turut mengenalkan dunia peternakan kepada puluhan ribu peserta Jambore Nasional XII melalui fasilitas peternakan terpadu di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta. Kehadiran kandang sapi juga  turut menjadi salah satu sarana edukasi bagi peserta untuk mengenal peternakan sekaligus pentingnya ketahanan pangan.

Pemilik Kandang Sapi Betawi Muda sekaligus Andalan Pramuka Bidang Aset, Abdul Latif, mengatakan kandang peternakan Pramuka tersebut diaktifkan pada Momentum Jambore Nasional yang digelar lima tahun sekali, dan menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali fasilitas tersebut.

Baca juga: Jambore Nasional, Peran Hutan dan Ketahanan Pangan

"Kandang Pramuka ini sebenarnya sudah lama vakum, lalu kita aktifkan lagi. Pertama memang ada momentum Jambore Nasional, karena jambore ini lima tahun sekali. Yang kedua, ini sesuai dengan Asta Cita Presiden terkait dengan pangan, khususnya swasembada pangan," kata Abdul Latif saat ditemui Jagad Tani Minggu (16/8).

Menurutnya, Gerakan Pramuka tidak hanya memberikan pendidikan mengenai keterampilan seperti tali-temali dan kegiatan kepramukaan lainnya. Pramuka juga perlu dibekali pengetahuan yang dapat menunjang kemandirian, termasuk di bidang pertanian dan peternakan.

"Seorang Pramuka bukan hanya pandai dalam hal keterampilan, tetapi juga pandai mempersiapkan diri, khususnya terkait dengan pangan. Maka kami mengadakan peternakan terpadu ini," ujarnya.

Selama pelaksanaan Jambore Nasional XII, peserta mendapatkan pengenalan di bidang pertanian, perikanan dan peternakan. Mengingat kegiatan jambore hanya berlangsung sekitar 10 hari dan sebagian besar peserta merupakan siswa SMP, materi yang diberikan lebih banyak berupa pengenalan dan praktik edukatif.

Kandang tersebut sekaligus dijadikan laboratorium terbuka bagi peserta. Mereka dapat mengenal proses perkembangbiakan sapi, pemeliharaan sapi pedaging dan sapi perah, hingga pengelolaan pakan.

"Anak-anak ini mayoritas SMP, mungkin juga belum pernah melihat sapi, bahkan melihatnya mungkin setahun sekali ketika Idul Adha. Ketika ada di sini, ini menjadi laboratorium," tutur Abdul Latif.

Di peternakan terpadu itu, peserta juga diperkenalkan dengan bank pakan serta proses fermentasi pakan melalui silase. Selain itu, pengelolaan limbah peternakan juga menjadi bagian penting dari edukasi.

Kotoran sapi diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Energi tersebut digunakan untuk kebutuhan memasak, sementara hasil pengolahan biogas juga dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik sebagai sumber penerangan.

"Semua kotoran sapi masuk ke penampungan biogas yang menghasilkan energi gas dan energi listrik. Kompor-kompor di sini menggunakan kotoran sapi, begitu juga lampu penerangan menggunakan energi listrik dari biogas tersebut," jelasnya.

Sementara itu, urin sapi ditampung dan dimanfaatkan sebagai bahan untuk pupuk organik. Konsep tersebut menunjukkan kepada peserta bahwa limbah peternakan dapat diolah dan memiliki nilai guna.

"Artinya semua yang ada di sini terolah dengan baik dan tidak menjadi limbah. Semuanya sangat bermanfaat," jelas pria yang juga merupakan bagian dari anggota Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) ini.

Saat ini, populasi sapi di fasilitas tersebut masih sekitar 50 ekor. Jenis sapi yang diperkenalkan juga dibuat beragam, mulai dari sapi yang diproyeksikan sebagai sapi pedaging, sapi betina untuk pengembangbiakan, pedet atau anak sapi, hingga sapi perah.

Beberapa jenis sapi yang tersedia di antaranya Limousin, Simmental, Pegon, sapi lokal dari Nusa Tenggara Timur, SO serta Friesian Holstein (FH) yang dikenal sebagai salah satu jenis sapi perah.

Latif berharap pengenalan peternakan tersebut tidak berhenti selama pelaksanaan Jambore Nasional. Dari sekitar 25 ribu peserta yang mengikuti kegiatan, ia berharap sebagian di antaranya tertarik menekuni bidang peternakan maupun pertanian setelah mendapatkan pengalaman di lokasi.

"Jambore Nasional ini diikuti 25 ribu anak dari seluruh Indonesia dan juga ada 13 negara. Waktunya memang sangat terbatas, hanya sekitar 10 hari. Tapi dari 25 ribu itu, kami berharap 5.000 atau bahkan 1.000 saja menjadi seorang peternak atau petani. Itu sudah menjadi salah satu hal yang membanggakan," ungkapnya.

Ia menilai keberhasilan program tersebut tidak harus diukur dari banyaknya peserta yang langsung menjadi peternak. Yang lebih penting, para peserta mendapatkan motivasi dan gambaran bahwa sektor pertanian dan peternakan dapat menjadi pilihan masa depan, termasuk sebagai bidang usaha.

"Kami tidak bisa mengharapkan semuanya menjadi seorang peternak. Tapi kami berharap ada sebagian, ya 1.000 orang saja menjadi seorang peternak," ujarnya.

Menurutnya, edukasi peternakan ini jadi bagian dari rangkaian kegiatan Jambore Nasional XII yang menghadirkan beragam pengalaman bagi peserta. Selain peternakan dan pertanian terpadu, peserta juga mendapatkan materi terkait petualangan alam, kegiatan air, literasi, seni, hingga kunjungan ke berbagai tempat dan lembaga.

Dengan demikian, kehadiran peternakan terpadu di Jambore Nasional XII tidak sekadar menjadi tempat melihat sapi. Fasilitas tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memperkenalkan rantai peternakan secara menyeluruh, mulai dari pemeliharaan hewan, penyediaan pakan, perkembangbiakan, hingga pengolahan limbah menjadi energi dan pupuk.

Melalui pendekatan tersebut, Gerakan Pramuka ingin menanamkan pemahaman bahwa keterampilan seorang Pramuka juga dapat diarahkan pada kemandirian pangan dan kewirausahaan.

"Seorang Gerakan Pramuka yang ada di sini bukan hanya bisa tali-temali, bukan hanya bisa semaphore, tapi harus juga bisa menjadi seorang wirausaha, bahkan menjadi seorang pengusaha," pungkas Abdul Latif.

Selain peternakan sapi, di Zona Peternakan juga terdapat kandang peternakan kambing dan domba, serta ada juga kandang ayam. Bukan cuma itu saja, di Jambore Nasional XII kali ini ada pula Zona Pertanian serta Zona Perikanan. Sehingga diharapkan bisa menjadi pintu bagi dunia Pramuka dalam memperkenalkan masa depan pangan Indonesia, melalui pengenalan terhadap bidang tersebut.

Related News