Sistem Pertanian yang Menguntungkan, Tanpa Penambahan Lahan
Jagad Tani - Menanam dua jenis tanaman dalam satu guludan (bedengan tanah), jadi solusi nyata dalam mengoptimalkan pemanfaatan hasil panen, tanpa harus menambah luasan lahan. Sistem penanaman ini dinamakan tumpangsari.
Wartini, petani asal Klaten, Jawa Tengah, bersama suami setidaknya sudah mempraktikkan sistem ini dengan menanam komoditas pangan berupa cabai dan sawi di atas lahan seluas 600 meter persegi.
Baca juga: Cara Menjaga Kebugaran Lele ala Pembudidaya Pringsewu
Menurutnya, bercocok tanam menggunakan sistem tumpangsari di lahan palawija miliknya, bisa meningkatkan produktivitas lahan, menambah pemasukan, serta menjaga perputaran modal secara berkelanjutan demi menutupi cost produksi.
Dilanjutkan oleh Wartini, pada dasarnya tanaman cabai dan sawi itu merupakan tanaman yang mempunyai masa panen yang saling bertolak belakang. Sebab, tanaman cabai membutuhkan waktu 3 bulan untuk satu kali panen.
Sementara tanaman sawi sudah bisa dipanen sebanyak 3 kali putaran, sebelum cabai dipanen. Tentu sebagai petani, Wartini harus memutar otak demi menambah pemasukan, menjelang panen cabai, yang rentang waktunya cukup panjang.
“Keuntungannya (dari sistem tumpangsari ini) biar (bisa) mendapatkan hasil yang berlipat ganda, karena antara cabai dan sawi itukan pengasilannya duluan sawi dari pada cabainya. Sawi itu enggak sampai satu bulan, kira-kira cuma 20 hari sudah panen,” ungkap Wartini, Kamis (13/8).
Bahkan dari luas lahan sekitar 600 meter persegi tersebut, panen dilakukan di tiap 200 meter persegi, hasil panen sawinya mencapai 2-3 kwintal, dengan jumlah panen hariannya bisa mencapai 30-50 kg.
Penanaman sawi inipun dilakukan secara estafet sebanyak 3 kali tanam, dan dilakukan panen tiap 200 meter persegi, yang harganya dikisaran Rp2.500 per kg. Tentunya hal ini menjadi bagian dari strategi perputaran ekonomi.
Wartini juga memaparkan, meski ditanam dalam satu guludan, proses penanaman hingga pemupukan juga harus dilakukan secara terencana. Penanaman diawali dengan menanam sawi, baru kemudian dilakukan penanaman bibit cabai.
Lebih rinci dijelaskan, saat proses pemupukan, tanaman sawi hanya membutuhkan 2 kali pemupukan sampai siap dipanen. Sedangkan cabai, memerlukan pemupukan rutin sebanyak 4 kali sebulan (seminggu sekali), mulai dari pupuk pertumbuhan hingga pupuk pembuahan.
"Cabai sendiri mulai penanaman kira-kira umur 1 minggu, baru dilakukan pemupukan, pupuk yang digunakan (yakni) pupuk pertumbuhan sampai (pupuk untuk) pembuahan. Sampai pemanenan itu, ya kira-kira 1 bulan penuh pemupukan dalam 4 kali, pemupukan per minggunya,” lanjutnya.
Bukan cuma itu, kebutuhan air dari kedua tanaman tersebut, dinilai memiliki perbedaan. Biasanya, Wartini melakukan penyiraman pada sawi hanya dua hari sekali, agar tanaman tersebut mendapatkan pasokan air yang cukup. Sedangkan cabai justru tidak membutuhkan pasokan air yang banyak.
“Kita 2 hari sekali melakukan penyiraman sawi, tapikan enggak banyak-banyak, cuma pakai gembor (alat penyiram tanaman yang berbentuk seperti cerek air),” imbuhnya.
Melalui penerapan sistem tumpangsari di lahannya, Wartini menilai sistem ini merupakan langkah strategis untuk menambah penghasilan tanpa harus menambah luas lahan pertanian, sehingga lahan bisa terus produktif tanpa harus menunggu hasil panen satu komoditas.
"(Metode tumpangsari ini efektif) untuk memanfaatkan lahan, biar lahan itu tidak sia-sia (dan hanya) ditumbuhi oleh rumput, (karena dari sinipun bisa) menambah hasil (pemasukan bagi petani, tanpa perlu menambah luasan lahan)," pungkasnya.

