Dikepung Karhutla, Bagaimana Nasib Orangutan Kalimantan
Jagad Tani - Merebaknya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan yang terjadi di banyak titik, tentu bukan cuma membahayakan bagi manusia, tetapi juga bagi satwa yang ada di dalamnya, termasuk orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang bisa kehilangan habitatnya.
Berdasarkan data dari situs Sipongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) jumlah titik panas di Kalimantan pada Jumat (21/8) mencapai 8.638 titik. Titik panas terbanyak ada di Kalimantan Barat (3.705 titik), Kalimantan Tengah (3.081), Kalimantan Timur (978), Kalimantan Selatan (776), serta Kalimantan Utara (98) dan dilaporkan sudah mulai mendekat ke habitat orangutan, di dataran rendah.
Baca juga: Kopi Petani Gunung Halu Meluncur ke Inggris
Tentunya kondisi ini sangat menghawatirkan, sebab melalui data hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016, setidaknya populasi orangutan Kalimantan berada di kisaran 57.350 individu, dan berstatus ‘sangat terancam punah’ oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List tahun 2016.
Jelas kondisi yang terjadi saat ini perlu dilakukan tindakan ekstra, guna memastikan keselamatan satwa dilindungi tersebut dari dampak puncak musim kemarau dan potensi gangguan habitat, yang dapat membuat populasinya kian terancam, mengingat kondisi karhutla tidak cuma terjadi kali ini saja di pulau Borneo.
Kejadian masuknya orangutan ke pemukiman warga akibat karhutla dilaporkan terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Senin (10/8). Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menduga pekatnya asap dan api di habitat orangutan jadi penyebab orangutan mencari perlindungan ke kebun warga.
Selain itu, kejadian serupa juga terjadi di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Pada Kamis (20/8), warga melaporkan ke BKSDA Kalimantan Barat, terkait ditemukannya satu individu orangutan yang melintas di perkebunan warga.
Tentunya karhutla yang terjadi di banyak titik ini akan semakin membuat kelangkaan sumber makanan, sekaligus hilangnya habitat alami bagi orangutan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pasalnya untuk mengganti 1 pohon yang terbakar, butuh waktu sekitar 15 tahun hingga pohon tumbuh besar.
"Masa depan orangutan ditentukan oleh keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap pohon yang tetap berdiri, setiap hutan yang kita lindungi, dan setiap orangutan yang kembali hidup bebas adalah hasil dari aksi nyata," ungkap Jamartin Sihite, Ketua Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation dalam siaran pers-nya (18/8).
Bahkan pada pada Jumat (21/8) dalam laporan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), tiga individu orangutan Kalimantan dievakuasi oleh BKSDA Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).
Ketiga individu orangutan Kalimantan tersebut dievakuasi di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, dan terdiri dari satu induk betina (Mamak Yuni, ±18 tahun), satu anak jantan (Pura, 8–10 bulan), dan satu individu remaja betina (Yuni, ±8 tahun).
Menurut Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, pergerakan satwa menuju area sekitar pemukiman dan perkebunan warga terjadi akibat dinamika di sekitar habitatnya. Pada akhirnya ketiga orangutan itu dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung (Sektor Batu Barat).
Sementara itu, M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, mengatakan bahwa orangutan hanya dapat bertahan apabila hutan tempat mereka hidup tetap terjaga. Oleh sebab itu, perlindungan kawasan konservasi, pemulihan habitat, dan pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya konservasi.
"Ketika kita menjaga hutan sebagai rumah orangutan, pada saat yang sama kita juga menjaga fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia, baik hari ini maupun di masa mendatang," pungkasnya.

