Ikan Kiamat Ditemukan Terdampar di Lombok Timur
Jagad Tani - Temuan ikan oarfish atau ikan kiamat yang terdampar dalam kondisi mati di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Pada Selasa (25/8), viral di media sosial.
Ikan langka yang memiliki panjang sekitar empat meter tersebut, ditemukan oleh pengunjung pantai, lalu diunggah oleh akun Facebook @Baiq Kolby, terlihat ikan berbentuk pipih dan tidak bergerak dibawa oleh sekelompok anak dan seorang pria dewasa.
Baca juga: Ikan Genghis Khan, Hiu Predator Air Tawar
Terkait penemuan ikan oarfish tersebut, dalam mitosnya, ada banyak warga mengaitkan kemunculan ikan ini dengan bencana alam dan berbagai hal negatif lainnya, termasuk dengan kejadian gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu.
Dilansir dari Antara, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, menyatakan bahwa kemunculan ikan ini ke permukaan laut biasanya disebabkan oleh perubahan suhu dan faktor oseanografi lain dari dalam laut.
"Perubahan suhu kan bisa terjadi karena ada gempa juga. Nah kebetulan kemarin baru selesai gempa di NTT. Kita ini kan sepanjang wilayah selatan kan Samudera Hindia semuanya, satu lempeng dengan NTT juga ini," ungkap Muslim.
Sehingga kemunculan dari ikan oarfish diasumsikan bahwa ikan itu muncul kemungkinan diindikasikan berkaitan dengan dampak dari gempa bumi yang terjadi di NTT.
"Bisa saja itu di asumsikan kemunculan ikan itu karena ada indikasi terkait gempa NTT kemarin, namun untuk membuktikan perlu ada kajian ilmiah, penelitian lagi," tegas Muslim.
Meski demikian, ia tidak menampik kemunculan ikan itu memang sering dikaitkan oleh banyak orang dengan mitos akan ada musibah. Namun, kata dia, mitos itu belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
"Karena mitos ini kan belum terbukti secara ilmiah. Kita doakan mudah-mudahan tidak terjadi," katanya lagi.
Sementara itu dalam siaran persnya, Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB mmengungkapkan bahwa kemunculan ikan "kiamat yang ditemukan terdampar di Pantai Pink, ini merupakan fenomena alamiah dan bukan penanda bencana.
"Terdamparnya oarfish ke wilayah pesisir umumnya dipicu oleh penurunan kondisi fisik ikan itu sendiri," ungkap Kepala Brida Nusa Tenggara Barat (NTB) I Gede Putu Aryadi di Mataram, Rabu (26/8).
Menurutnya ada beberapa faktor biologis yang mendasari terjadinya fenomena ini, karena faktor kesehatan dan usia. Misalkan ikan mengalami penyakit, cedera fisik seperti patah tulang atau sudah memasuki usia tua, sehingga kehilangan kemampuan berenang secara optimal.
Selain itu, juga ada faktor pengaruh arus, sebab ikan yang dalam kondisi lemah tidak lagi mampu melawan arus laut dalam, sehingga perlahan terbawa ke perairan dangkal hingga akhirnya terdampar di pantai.
"Jasad ikan yang masih kokoh akan mengapung dan terbawa gelombang hingga ke tepi. Sementara itu, jasad yang mati di tengah laut biasanya akan hancur, kecuali jika struktur fisiknya masih cukup kuat untuk bertahan selama perjalanan migrasi yang panjang," terangnya.
Putu Aryadi mengimbau masyarakat agar tidak panik dan menghubungkannya dengan mitos hari kiamat atau bencana alam besar, seperti gempa NTT. Menurutnya, studi ilmiah termasuk riset dari Jepang, menunjukkan bila mayoritas kasus terdamparnya ikan laut dalam, itu murni kejadian biologis.
Dikatakan jika faktor lingkungan seperti suhu air laut yang rendah, arah arus, dan kondisi gelombang memegang peranan penting dalam menentukan apakah bangkai ikan akan sampai ke pantai atau tidak.
Peristiwa ini dinilai mirip dengan kasus terdamparnya paus di Bima yang sering terjadi sebagai dinamika alam biasa. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau untuk menyikapi fenomena ini secara rasional dengan mengacu pada riset serta publikasi ilmiah yang valid bukan karena mitos atau tahayul.
"Jadi, klaim mistis atau langsung menyamakannya dengan bencana perlu diuji melalui penelitian dan pemantauan ilmiah. Jadi itu kejadian biasa saja dan tidak usah dikaitkan dengan ada bencana," tukasnya.
Ikan ini biasanya ditemukan di lautan yang beriklim sedang hingga tropis, dan famili Oarfish terdiri dari tiga spesies dalam dua genus, salah satunya oarfish raksasa (Regalecus glesne) yang merupakan ikan dengan tulang terpanjang hingga mencapai sekitar 11 meter.
Sebetulnya, ikan oarfish ini merupakan ikan pelagis berukuran besar dan sangat panjang yang termasuk dalam famili kecil Regalecidae. Adapun nama famili “Regalecidae” sendiri berasal dari bahasa Latin “Regalis” yang berarti “kerajaan”.
Mengutip dari National Geographic, ikan oarfish sudah menjadi bagian dari cerita rakyat di Jepang sebagai “utusan dari Istana Dewa Laut” yang dianggap sebagai pertanda gempa bumi dan tsunami ketika terdampar di pantai.
Walaupun demikian, seorang peneliti gempa bumi di organisasi nirlaba e-PISCO, Kiyoshi Wadatsumi, mengatakan bahwa ikan yang hidup di dasar laut lebih sensitif terhadap pergerakan patahan aktif dibandingkan ikan lain yang berada di dekat permukaan laut.
Berdasarkan laman National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) disebutkan bahwa Oarfish memiliki daging dengan tekstur yang lembut dan lengket, dan biasanya ikan ini memakan plankton-plankton kecil.
Meskipun sering dikaitkan dengan mitos dan pertanda gempa, akan tetapi, secara keseluruhan, ikan oarfish masihlah merupakan salah satu makhluk laut yang misterius, karena hidup jauh di kedalaman laut serta jarang terlihat.

