Pemanfaatan Teknologi Nuklir untuk Penyimpanan Beras
Jagad Tani - Teknologi nuklir ternyata bisa digunakan untuk mendukung pengelolaan cadangan pangan nasional, terutama dalam menjaga kondisi beras selama masa penyimpanan, sehingga bisa menjaga penurunan kualitas.
Menurut Irawan Sugoro, selaku Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), riset ini bermula dari permasalahan yang dihadapi BULOG dalam penyimpanan beras.
Baca juga: Ikan Pembersih di Pasar Sawo Selain Sapu-Sapu
Selama masa simpan, jelasnya, beras dapat mengalami penurunan kualitas dan kuantitas akibat perubahan fisik, kimia, dan biologi. Selain itu, volume yang besar, penyimpanan dalam jangka waktu lama, dan keberadaan hama gudang jadi tantangan dalam menjaga mutu beras.
Demi mengatasi persoalan tersebut, dua riset disiapkan, yakni mencakup pengendalian hama gudang serta pemeliharaan dan perpanjangan umur simpan beras BULOG dengan menggunakan teknologi iradiasi berbasis elektron.
“Teknologi ini memanfaatkan radiasi dan jenis elektron yang diharapkan mampu memperpanjang masa simpan beras tanpa mengurangi kualitas atau mutunya,” jelas Irawan dalam siaran pers BRIN, dikutip Rabu (2/9).
Pada akhirnya BRIN dan Perum BULOG melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama penggunaan fasilitas akselator elektron energi tinggi di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (31/8), yang memanfaatkan teknologi nuklir untuk mendukung pengelolaan cadangan pangan.
Syaiful Bakhri, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, mengatakan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara BRIN dan Perum BULOG yang telah dilakukan sebelumnya.
Melalui kerja sama tersebut, BRIN akan mengimplementasikan teknologi nuklir untuk memperpanjang umur simpan pangan.
“Kami dari ORTN mengimplementasikan MoU tersebut dengan mengaplikasikan teknologi nuklir untuk memperpanjang umur simpan. Salah satunya kami harap teknologi radiasi nanti bisa lebih punya manfaat,” terang Syaiful.
Riset akan dilakukan selama 12 bulan melalui beberapa kegiatan, dimulai dari kajian literatur dan regulasi, serta dilanjutkan rangkaian hasil penelitian hingga diseminasi hasil riset.
Selama pelaksanaan riset, pihak BRIN akan menyampaikan laporan kepada BULOG secara berkala, mulai dari laporan pendahuluan, laporan bulanan, laporan akhir, hingga laporan ringkasan secara ekslusif.
BRIN menargetkan sejumlah hasil penelitian, di antaranya menghasilkan data dan SOP iradiasi hama gudang, metode dosimetri iradiasi beras, serta data kajian ekonomi penerapan iradiasi.
Syaiful berharap hasil risetnya bisa terus dikembangkan hingga tahap pilot apabila telah terbukti secara ilmiah. Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan BRIN dapat dimanfaatkan secara langsung oleh BULOG untuk mendukung pengelolaan stok beras nasional.
“Harapan kami ini benar-benar bisa kita buktikan, kemudian bisa kita lihat hasilnya sesuai dengan scientific reason atau sesuatu yang sudah kita buat, dan selanjutnya kita buat pilot-nya yang kira-kira harapannya nanti bisa dimanfaatkan langsung oleh BULOG,” harapnya.
Sementara itu, Direktur SDM dan Transformasi Perum BULOG, Ade Prasetya Nurdin, mengatakan kerja sama yang dilakukan antara BULOG dengan BRIN menjadi penting seiring meningkatnya tanggung jawab BULOG dalam menjaga cadangan stok pangan nasional.
Ketersediaan stok yang besar harus diimbangi dengan kemampuan menjaga mutu dan kualitas beras selama penyimpanan. Maka dari itu, teknologi dari BRIN harus dimanfaatkan untuk mendukung kemandirian teknologi nasional.
“Perintahnya kita itu tidak menggunakan teknologi luar, ya, harus dengan teman-teman BRIN. Ini, kan, sumber daya yang memang harus dimanfaatkan,” tukas Ade.

