• 3 September 2026

Minyak Kelapa Berpotensi Jadi Bahan Bakar Pesawat

uploads/news/2026/09/minyak-kelapa-berpotensi-jadi-840228c067d6541.jpg

Jagad Tani - Material metal-organic framework (MOF) untuk mengonversi minyak nabati menjadi hidrokarbon yang setara dengan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF), kini tengah dikembangkan.

“Pengembangan SAF menjadi salah satu alternatif untuk mendukung transisi energi karena sektor penerbangan masih bergantung pada bahan bakar fosil,” ungkap Deliana Dahnum, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Baca juga: Segini Suhu Ruang yang Optimal untuk DOC

Hal tersebut diungkapkannya pada webinar Jejak Kimia Molekuler (JKM) Edisi ke-11, secara daring, Jumat (28/8) lalu. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi bahan baku nabati yang melimpah, seperti minyak kelapa dan produk turunan kelapa sawit.

Bahan baku tersebut, jelas Deliana, perlu melalui proses deoksigenasi guna menghilangkan kandungan oksigen sehingga menghasilkan hidrokarbon yang sesuai sebagai bahan bakar.

Hasil penelitian menunjukkan, penggunaan nikel sebesar 10% pada MOF mampu mengonversi minyak kelapa jadi sekitar 99% hidrokarbon, dengan selektivitas terhadap bioavtur mencapai 91,6%. Proses dilakukan pada suhu 350°C selama 4 jam dengan tekanan hidrogen 30 bar.

Sebelumnya, pengujian menggunakan asam laurat sebagai senyawa model menunjukkan bahwa pemuatan nikel sebesar 1% mampu menghasilkan konversi hingga 99,8%.

Hasil tersebut, menjadi dasar bagi Deliana dan tim untuk menguji material menggunakan minyak kelapa sebagai bahan baku sebenarnya. Penelitian dilakukan melalui desain struktur dan rekayasa situs aktif MOF. Pendekatan ini bertujuan mengoptimalkan konversi minyak nabati sekaligus meningkatkan selektivitas produk.

“Melalui pendekatan desain struktur dan rekayasa situs aktif ini, kita berupaya memahami interaksi antara logam dan lingkar organik (ligan) di dalam MOF untuk mengoptimalkan konversi minyak dan selektivitas produk,” terang Deliana.

Dalam penelitian, ZIF-67 digunakan sebagai sacrificial template untuk memuat logam aktif, seperti nikel, yang selanjutnya digunakan dalam proses konversi minyak nabati. Rekayasa itu memungkinkan karakteristik dan situs aktif material disesuaikan dengan kebutuhan reaksi.

Deliana dan timnya juga mengeksplorasi penggunaan logam lain, seperti kobalt. Meskipun aktivitasnya belum setinggi nikel, penggunaan kobalt menunjukkan komposisi logam pada MOF dapat disesuaikan untuk memengaruhi jalur reaksi dan karakteristik produk.

“MOF dapat kita modifikasi sesuai dengan kebutuhan. Struktur dan komposisinya dapat ditentukan, begitu juga situs aktifnya. Dengan demikian, kita dapat mengontrol karakteristik material tersebut,” pungkasnya.

 

 

Related News