Penjelasan PVMBG Soal 6 Gunung Erupsi Bersamaan
Jagad Tani - Aktivitas vulkanik terjadi di beberapa gunung di Indonesia, temasuk dengan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, yang mulai Erupsi sejak Jumat (4/9) hingga Minggu (6/9).
Erupsi tersebut disertai dentuman dan suara gemuruh. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, memantau secara intensif perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau.
Baca juga: Petani Milenial Klaten Kembangkan Wisata Petik Melon
Bahkan masyarakat diminta untuk tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari pihak PVMBG, serta tidak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman yang terdengar.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan Sabtu (5/9) pukul 00.00–06.00 WIB, erupsi masih berlangsung dan secara visual diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang teramati pada malam hari.
Melalui pemantauan visual, gunung api teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III, dan asap kawah tidak teramati. Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik.
Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi yang tercatat dalam laporan selama 21.600 detik. Kondisi cuaca di sekitar gunung api berawan hingga mendung, dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut.
Status Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan agar semua pihak tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Bahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mengintensifkan pemantauan 24 jam guna memantau perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Lewat analisis citra satelit pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Menurut Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, Abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
Pada akhirnya, Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET, yakni peringatan dini untuk cuaca penerbangan) pertama sesaat setelah erupsi awal pada (4/9), dan BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET.
“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” ungkap Andri, Minggu (6/9).
Sementara itu, pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.
Melalui data, PVMBG semenjak 31 Agustus 2026, ada 6 gunung api yang erupsi di waktu bersamaan, yakni Gunung Ibu (Maluku Utara), Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Lewotobi Laki-laki (Nusa Tenggara Timur), Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur), Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda), dan Gunung Sinabung (Sumatera Utara).
Fenomena erupsi hampir bersamaan ini, menurut Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan 127 gunung api aktif, memungkinkan terjadinya erupsi di gunung api di hari yang sama tanpa saling terikat.
“Dapurnya itu sendiri-sendiri, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus,” ujarnya.
Dalam penjelasan resmi PVMBG, sistem magma setiap gunung api memiliki dapur magma dan jalur tekanan sendiri. Pergerakan magma di Gunung Sinabung tidak ada kaitannya dengan Anak Krakatau, begitu juga dengan Semeru dan gunung lain.

