Potensi Pangan Lokal Papua Didorong Jadi Kekuatan Pangan
Jagad Tani - Tanah Papua merupakan salah satu kawasan dengan potensi pangan lokal yang berbasis masyarakat dan sumber daya pertanian yang melimpah, mulai dari sagu, hingga ubi.
Melalui PAPEDA Summit 2026 yang berlangsung pada 2-4 September 2026 di Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini dinilai menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi antar lini dalam mendorong pembangunan Papua yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.
Baca juga: Petani Milenial Klaten Kembangkan Wisata Petik Melon
Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, pembangunan kemandirian pangan di Papua harus bertumpu pada potensi yang telah dimiliki masyarakat setempat.
"Kita ingin membangun kemandirian pangan di seluruh pulau, termasuk Papua. Pangan untuk saudara-saudara kita di Papua harus dipenuhi dari Papua sendiri. Beras, sagu, ubi, dan pangan lokal lainnya harus kita kembangkan bersama masyarakat setempat," ujar Amran.
Pembangunan pertanian di Papua dinilai bukan hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga untuk mengoptimalkan kekayaan sumber daya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, pengembangan pangan strategis berjalan beriringan dengan penguatan pangan lokal serta pelibatan masyarakat setempat sebagai pelaku utama pembangunan.
Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Pangan mendorong pengembangan ekosistem pertanian modern, cetak sawah berbasis komunitas, serta optimalisasi potensi lahan daerah sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian pangan di Papua.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai Papua memiliki peluang besar untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, bahkan berpotensi menjadi pemasok pangan bagi wilayah lain di kawasan timur Indonesia.
"Kita ingin Papua ini bisa swasembada pangan, kita akan kembangkan hampir satu juta sawah sehingga diharapkan dengan mekanisasi seluruh Papua, pangannya itu bisa dipenuhi dari Papua sendiri," terangnya.
Pria yang akrab disapa Zulhas ini mengatakan, kalau hal tersebut berhasil, maka suplai kebutuhan pangan beras masyarakat Papua hingga Maluku, tidak perlu lagi didatangkan dari jauh.
Adapun Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, mengatakan kekayaan sumber daya pertanian Tanah Papua merupakan modal penting untuk membangun sistem pangan yang kuat dari wilayah timur Indonesia.
"Kita harus memastikan seluruh wilayah di Tanah Papua betul-betul bisa mandiri pangan secara lokal dan memberikan kontribusi besar bagi pangan nasional," jelas Hermanto.
Pengembangan pertanian Papua disebutkan, harus menempatkan masyarakat setempat sebagai bagian utama dalam setiap proses pembangunan. Pendekatan tersebut diterapkan melalui program cetak sawah berbasis komunitas yang telah berjalan sejak 2024.
"Program cetak sawah berbasis komunitas ini dibangun di atas empat pilar utama. Pertama, mengedepankan kesepakatan hak ulayat tanpa adanya pengambilalihan atau perampasan lahan. Kedua, menggerakkan ekonomi masyarakat Papua secara langsung," ujarnya.
Dilanjutkan bahwa pilar ketiga, yakni memperkuat kelembagaan SDM lokal melalui pembentukan Brigade Pangan yang mengonsolidasikan pemuda tempatan dengan dukungan mekanisasi modern.
"Serta keempat, pengawalan program secara holistik bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani," tukas Hermanto.

