Ikan Tak Bernilai Disulap Mama-Mama Fak-fak
Jagad Tani - Nelayan dan kelompok Mama-mama di Kampung Sahari, Kabupaten Fak-fak, Provinsi Papua Barat, melalui program pengolahan produk turunan, berhasil mengangkat nilai jual hasil tangkapan laut seperti ikan sibula, jenis ikan yang selama ini kurang diminati dan bernilai jual rendah.
Meski melimpah, ikan yang semula dianggap kurang bernilai itu, melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, kini mampu diproduksi oleh warga menjadi bakso, nugget, kerupuk, abon, hingga sambal ikan, sehingga bisa menjadi tumpuan ekonomi rumah tangga.
Baca juga: Tiga Anggota Dinas Pertanian Tewas Ditembak KKB
“Alhamdulillah, hari ini kami sudah bisa mengelola ikan menjadi abon, bakso, nugget, dan kerupuk. Tadinya ikan hanya kami jual utuh atau untuk dimakan. Sekarang kami bisa bekerja mandiri untuk menambah ekonomi rumah tangga”, ujar Nayu Ohebor, salah satu warga, dikutip dari Kementerian Imigrasi, Jumat (11/9).
Sebanyak 20 Mama-mama ini dibagi ke dalam 4 kelompok usaha kecil, masing-masing dibekali peralatan produksi yang sama. Sedangkan kelompok nelayan laki-laki mendapatkan pelatihan penanganan pascatangkapan ikan secara higienis.
“Insyaallah kami bermusyawarah untuk membentuk satu kelompok usaha permanen dari hasil kegiatan ini. Harapan kami, program seperti ini terus didatangkan ke Kampung Sahari”, jelas Nayu.
Adapun untuk program pendampingan ini, melibatkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Universitas Hasanuddin (Unhas) guna memberikan pembelajaran yang tepat kepada warga, termasuk teknik sterilisasi pengemasan. Dengan metode tersebut, produk seperti sambal ikan diklaim mampu bertahan hingga empat bulan pada suhu ruang tanpa bahan pengawet.
“Kami melakukan pendampingan intensif kepada warga agar mereka benar – benar dapat melakukan pengolahan hasil laut secara mandiri dan kedepan ini akan menjadi kemandirian ekonomi untuk mereka”, terang Kasmiati selaku Ketua TEP Unhas.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.
“Indonesia Emas 2045 harus tetap menjadi visi kita bersama. Kuncinya adalah kualitas sumber daya manusia, inovasi, produktivitas, dan kepemimpinan. Perubahan membuka peluang baru bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan,” tukas AHY.

