Potensi Kebutuhan cabai Jepang Diperkirakan 1.227 Ton/Tahun, Bantul Lihat Ceruknya
Jagad Tani - Dari sekitar 266.000 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Jepang, setidaknya kebutuhan cabai diperkirakan mencapai 1.227 ton per tahun. Hal ini tentu membuka peluang besar bagi pelaku usaha cabai beku untuk melakukan ekspor ke Negeri Mahari Terbit.
Ceruk pasar inipun akhirnya mulai dimanfaatkan oleh pelaku usaha asal Yogyakarta. Injapan Corporation, perusahaan yang berbasis di Bantul dan memiliki kegiatan produksi di Gunungkidul, telah mengirim cabai beku secara bertahap ke pasar Jepang sejak Juni 2025.
Baca juga: Harga Cabai Naik, Ini Strategi yang Diterapkan
Menurut Heri Kurnianta selaku pimpinan Injapan Corporation, pengiriman pertama mencapai 7,9 ton pada Juni 2025. Pengiriman berlanjut sebanyak 8,3 ton pada April 2026 dan delapan ton pada Agustus 2026.
Secara keseluruhan, tercatat sebanyak delapan kali pengiriman dilakukan, dengan akumulasi transaksi mendekati Rp1 miliar. Hal tersebut dibagikan dalam Webseries Go Ekspor Barantin seri ke-9 bertajuk "Cabai Beku Jogja Menembus Pasar Dunia", Rabu (9/9) lalu.
Heri menilai, potensi pasar tersebut bukan cuma berhenti pada komoditas cabai. Setelah membuka jalan untuk cabai beku, para pelaku usaha mulai membidik produk pertanian lain yang memiliki permintaan di Jepang.
"Kami akan mencoba peluang produk lain yaitu kencur, jahe, dan kunyit. Secara kasar, kami melihat ada kebutuhan dan minat yang tinggi untuk produk-produk tersebut,” terang Heri.
Sementara itu, Obing Hobir, Kepala Karantina Jogja mengatakan bahwa Jepang jadi salah satu pasar potensial bagi produk cabai beku asal Daerah Istimewa ini. Namun, peluang pasar yang besar juga diikuti persyaratan yang harus dipenuhi eksportir.
"Jepang adalah salah satu pasar non-tradisional yang sangat potensial untuk cabai beku. Namun untuk masuk ke sana, pelaku usaha wajib memenuhi standar karantina dan keamanan pangan yang ketat," jelas Obing.
Tentunya pendampingan kepada pelaku UMKM dalam memenuhi persyaratan negara tujuan dan proses sertifikasi ekspor, berperan penting agar komoditas daerah memiliki potensi tidak berhenti di pasar domestik saja, tetapi mampu mendapatkan akses ke pasar internasional.
Adapun Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Anton Rahardja mengatakan bahwa pemerintah juga harus melihat peluang pasar tersebut sebagai kesempatan memperluas ekspor komoditas pertanian daerah, dan dukungan tidak hanya diarahkan untuk pasar Jepang.
"Kami siap bersinergi dan berkolaborasi agar potensi ekspor di Yogyakarta bisa menjangkau pasar dunia, tidak hanya Jepang tapi juga Eropa dan seluruh Asia," tukas Anton.

