Kemarau, Waspadai Serangan Janda Pirang Pada Bawang
Jagad Tani - Fenomena mati mendadak pada tanaman bawang merah yang dikenal para petani dengan istilah janda pirang, perlu diwaspadai, di tengah ancaman kekeringan dan cuaca ekstrem, dan harus diantisipasi serta dikendalikan agar tidak mengancam pertanian.
Setidaknya petani harus melakukan pemantauan tanaman secara intensif, deteksi dini, serta memberikan sarana pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang efektif dan ramah lingkungan, supaya produktivitas bawang merah bisa terus terjaga.
Baca juga: ILDEX 2026 Jadi Ajang Kolaborasi Industri Peternakan Global
Leli Nuryati, Direktur Pelindungan Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), mengatakan fenomena janda pirang yang sempat terjadi di sejumlah sentra bawang merah pada 2023 lalu, jadi pelajaran penting untuk memperkuat strategi antisipasi dan mitigasi di lapangan.
“Kejadian janda pirang pada tahun 2023 berlangsung bersamaan dengan kondisi lingkungan yang ekstrem akibat fenomena El Nino, terutama berupa kekeringan dan suhu tinggi. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor,” ucap Leli dalam Siaran Pers, dikutip Kamis (17/9).
Diungkapkan Leli, istilah janda pirang yang digunakan petani merupakan gambaran soal kondisi tanaman bawang merah yang berubah warna jadi kuning (pirang) hingga menyerupai jerami secara serentak di areal lahan, lalu mengalami kematian dalam waktu singkat.
Bahkan fenomena ini berpotensi menurunkan hasil panen, dan bisa menyebabkan kegagalan panen. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura, fenomena janda pirang pada tahun 2023 turut memicu penurunan luas panen bawang merah di beberapa sentra utama.
Kemunculannya bertepatan dengan kondisi kemarau panjang akibat El Nino yang ditandai suhu udara tinggi dan kekeringan, serta peningkatan populasi hama trips (Thrips tabaci) secara drastis di sejumlah sentra produksi.
Pada tahun 2024, fenomena ini masih ditemukan dengan intensitas yang lebih ringan dibandingkan tahun sebelumnya dan tidak disertai ledakan populasi trips.
Sementara pada tahun 2025 tidak tercatat adanya laporan fenomena janda pirang, seiring karakteristik musim kemarau basah berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dinamika kejadian tersebut, kata Leli, menunjukkan bahwa kemunculan janda pirang berkaitan dengan interaksi kompleks antara kondisi tanaman, serangan OPT, lingkungan, serta dinamika cuaca.
“Karena itu, pendekatan penanganannya harus dilakukan secara komprehensif dan antisipatif, terutama dengan memperkuat pemantauan kondisi pertanaman, deteksi dini, serta pengendalian OPT di lapangan,” jelasnya.
Leli menilai, berbagai metode pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan dilakukan, seperti pendampingan ke petani melalui penyaluran bahan pengendali OPT berupa pestisida nabati serta perangkap lampu (light trap) untuk membantu menekan populasi hama sekaligus mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.
Selain melalui dukungan sarana pengendalian, pemantauan pertanaman harus terus dilakukan melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan penyuluh pertanian.
Sistem deteksi dini diperkuat agar potensi serangan OPT maupun gangguan akibat perubahan kondisi lingkungan dapat diketahui lebih cepat dan segera ditindaklanjuti.
"Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga produksi bawang merah nasional sekaligus meningkatkan kesiapan petani menghadapi kekeringan, perubahan iklim, dan berbagai potensi gangguan produksi," tukasnya.

