PU Selamatkan 141.440 Hektare Sawah dari Kekeringan
Jagad Tani - Kemarau yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia sejak Bulan Juli lalu ini, jika tidak dilakukan penanganan darurat, bisa menyebabkan krisis ketersediaan air, dan berdampak pada produktivitas pertanian.
Hal tersebut disampaikan oleh Dody Hanggodo selaku Menteri Pekerjaan Umum (PU). Ia menilai, penanganan kekeringan dan ancaman kebakaran harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu dengan memastikan ketersediaan air di lapangan.
Baca juga: Sebanyak 149 Nelayan Batang, Mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan
Dalam laporan Kementerian PU, penanganan telah dilakukan di 3.288 lokasi yang meliputi 358 lokasi di area persawahan, 2.553 lokasi di area permukiman serta 377 lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Lewat penanganan itu, sebanyak 141.440 hektare sawah dinilai terselamatkan dari ancaman gagal tanam dan gagal panen, dan memenuhi kebutuhan air bagi 1,75 juta jiwa dengan total air bersih yang tersalurkan sebanyak 48,9 juta liter serta dukungan air bagi penanganan karhutla.
“Penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan produktivitas pertanian tetap terjaga,” ujar Dody melalui keterangan resminya, Sabtu (26/9).
Untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian, sebanyak 358 lokasi penanganan dilakukan dengan pemompaan air sungai ke sawah, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, serta pembuatan saluran darurat.
Bukan cuma itu, lanjut Dody, pengaturan giliran air dan distribusi air juga dilakukan agar kebutuhan setiap petak sawah dapat terpenuhi secara lebih merata. Dari 358 lokasi, 272 lokasi telah selesai ditangani dan 86 lokasi dalam penanganan
Terkait penanganan kekeringan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dari totalnya yang sekitar 2.553 lokasi, sebanyak 2.077 lokasi telah selesai dikerjakan, dan 476 lokasi saat ini masih dalam penanganan.
Guna memenuhi kebutuhan air masyarakat, pihaknya turut mengerahkan mobil tangki dan hidran umum ke kawasan permukiman, membangun sumur bor, serta bekerja sama dengan pihak Terkait, guna memperkuat pelayanan
Saat ini air bersih yang telah terdistribusi sebanyak 48,9 juta liter air dengan penerima manfaat sebanyak 1,75 juta jiwa. Seluruh penanganan dikawal oleh Satuan Tugas Antisipasi El Nino yang secara berkala memantau kondisi bendungan, embung, dan jaringan irigasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sumber-sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan yang masih berpotensi berlangsung hingga November 2026.
"Infrastruktur air yang ada harus dioptimalkan untuk memberikan manfaat nyata, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun menjaga produktivitas pertanian. Penanganan juga terus dievaluasi agar dukungan dapat diberikan secara tepat sesuai kebutuhan masing-masing wilayah,” tegas Dody.

