• 28 September 2026

Sapi Grati Punya Potensi Kurangi Ketergantungan Impor

uploads/news/2026/09/sapi-grati-punya-potensi-81641fdf99aa687.jpeg

Jagad Tani - Peningkatan produksi susu sapi dalam negeri dan pengembangan sapi lokal yang mampu beradaptasi dengan iklim Indonesia, menjadi upaya penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.

Melalui kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9) Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Almasyhari, menilai sapi Grati memiliki potensi tersebut.  

Baca juga: Pembudidaya Ikan Diarahkan Gandeng Koperasi Merah Putih

“Sapi Grati memiliki daya tahan terhadap panas dan memiliki keunggulan genetik yang perlu diperhatikan," ujar Kharis.

Tentunya keunggulan sapi Grati yang dinilai mempunyai potensi genetik itu, utamanya dalam beradaptasi dengan iklim panas dan wilayah dataran rendah maupun pesisir, perlu dikembangkan lewat pemuliaan untuk menghasilkan bibit unggul asli Indonesia.

"Potensi ini harus terus dikembangkan melalui pemuliaan hingga menjadi bibit unggul asli Indonesia yang dapat dipelihara di daerah dataran rendah dan wilayah panas,” sambungnya.

Bukan cuma itu, bahkan Kharis turut menilai soal pemenuhan kebutuhan susu dari produksi dalam negeri yang merupakan pekerjaan besar yang harus dilakukan bersama oleh pemerintah, peternak, koperasi, dan industri.

“Selain kita harus segera fokus memenuhi kebutuhan susu dalam negeri dengan cara produksi sendiri, tidak dipenuhi melalui impor, saya kira ini menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus kita selesaikan bersama,” jelasnya.

Mengenai impor susu, Kharis menjelaskan bahwa kebijakan tersebut masih diperlukan selama produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Namun, volumenya harus terus dikurangi seiring meningkatnya produksi peternak lokal.

“Kalau produksi susu dalam negeri belum cukup, impor boleh dilakukan, tetapi harus dibatasi dan terus dikurangi. Semakin kecil impor, berarti produksi dalam negeri semakin meningkat,” tuturnya.

Adapun soal pencapaian target tersebut, Kharis menekankan pentingnya dukungan lahan, pakan, pupuk, regulasi, serta peningkatan efisiensi usaha peternakan. Perubahan pola pikir peternak juga dinilai penting agar usaha sapi perah semakin menarik bagi generasi muda.

Sementara itu, Ketua KUTT Suka Makmur, Evi Zainal Abidin, mengatakan sapi perah dataran rendah yang dikembangkan di Pasuruan telah bertahan lebih dari 100 tahun secara turun-temurun, dan jadi bukti bahwa sapi lokal mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis.

“Kami ingin menunjukkan kepada Ibu Ketua dan anggota bahwa di Indonesia sudah ada peternakan sapi perah dataran rendah yang sudah established, bahkan lebih dari 100 tahun. Ini sudah dilakukan secara turun-temurun dan peternaknya sudah sangat terampil,” terang Evi.

Evi berharap pola pengembangan sapi perah dataran rendah ini dapat didukung dan direplikasi di wilayah lain, khususnya luar Jawa. Mengingat sekitar 95% produksi susu nasional masih berasal dari Pulau Jawa, sementara potensi hijauan pakan ternak banyak tersedia di luar Jawa.

“Kalau kita bicara luar Jawa, yang tidak membutuhkan perawatan terlalu rumit adalah sapi yang genetikanya sudah stabil dan sudah dikenal sebagai sapi dataran rendah Indonesia,” pungkas Evi.

Related News