Beternak Jangkrik: Peluang Cuan Menggiurkan, Panen Cepat
Jagad Tani - Usaha ternak jangkrik menjadi pilihan yang menarik untuk dicoba, sebab modal yang dikeluarkan pun relatif lebih cepat perputarannya, hal ini dikarenakan masa pemeliharaan yang cukup singkat, mulai dari penetasan hingga panen, yakni sekitar 27 hari.
“Panen kita 27 hari sekali panennya, yang dari telurnya,” ujar Nanto salah seorang peternak jangkrik di Kabupaten Pringsewu, Lampung, saat ditemui di peternakan jangkrik miliknya, Sabtu (5/9).
Baca juga: Siasat 'Kere Aktif' Peternak Jangkrik Atasi Permasalahan
Nanto melanjutkan bahwa, kepastian perputaran panen yang dilakukan setiap 27 hari sekali tersebut, tidak terlepas dari manajemen penetasan telur yang teratur.
Di area pembibitan, peternak juga harus menyiapkan wadah khusus berisi indukan betina dan jantan beserta nampan berisi media pasir sebagai tempat bertelur. Indukan ini dirawat khusus dan tidak dijual demi menjaga kontinuitas produksi telur.
Sementara itu, untuk proses pemanenan telur biasanya dilakukan secara berkala, yakni setiap tiga hari sekali dengan cara mengayak pasir dari nampan, yang berisi pasir dari boks indukan.
Setelah itu, jelas Nanto, pasir diayak di dalam ember berisi air, telur jangkrik yang mengapung nantinya harus dipisahkan dari pasir. Telur yang terkumpul ini kemudian dipindahkan ke dalam boks pembesaran.
Pada fase penetasan, telur diletakkan di dalam boks pembesaran yang sudah dilengkapi dengan gedebok pisang (batang pisang) sebagai tempat bersarang.
Kemudian, telur yang sudah menetas dengan sempurna tersebut, dalam waktu 5 hari dibiarkan tumbuh di dalam boks, tanpa perlu dipindahkan lagi hingga masa panen.
“Untuk 5 hari telur sudah selesai menetas, hari ke 5 diambil dipindah lagi ke boks lain,” ucap Nanto.
Selain itu, kebutuhan modal untuk pakan juga dinilai tidak terlalu membutuhkan modal yang besar dan perawatannya pun tidak rumit. Sehingga dengan ketelatenan, usaha ini dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam waktu yang relatif singkat.
Adapun untuk biaya pakannya, indukan jangkrik diberikan campuran pakan berupa dedak dan pur. Nanto menyebutkan, untuk kebutuhan biaya pakan selama satu minggu, dana yang dikeluarkan yaitu Rp100.000 per karung (25 kg) untuk dedak, dan pur Rp290.000 per karung.
Sedangkan untuk anakan jangkrik, kebutuhan pakannya dinilai jauh lebih efisien, karena cukup dengan menggunakan pur tanpa campuran, serta penggantian ataupun penambahaan gedebok pisang per tiga hari sekali.
“Modalnya gratis, cuma modal pakan doang, kalau untuk pakan beli sekarung itu Rp 290.000 cukup untuk satu minggu, untuk dedaknya kita beli Rp100 dapatnya 25 kg,” ujarnya.
Tentunya, jaminan pangsa pasar dinilai menjadi daya tarik utama dalam membudidaya jangkrik, bahkan untuk satu kali siklus panen, dalam satu unit pembesaran Nanto mampu memproduksi hingga 45 kilogram atau setara dengan 60 karung jangkrik.
“Sekali panen itu bisa sampai 45 kilogram, setara 60 karung”, ungkapnya.
Seluruh hasil panen tersebut, biasanya didistribusikan ke pengepul untuk disuplai kembali ke kios-kios pakan burung ataupun dijual untuk kebutuhan umpan para pemancing.
Di tingkat peternak, sistem penjualan melayani dua skema eceran kilo-an dengan patokan harga Rp45.000 per kg, dan skema grosir karungan di kisaran harga Rp35.000 per karung. Dalam satu bok pembesaran, bobot jangkrik yang dipanen rata-rata mencapai 7 kg.
"Jualnya kita per karung sama kiloan, kalo 1 kilo Rp45.000 sedangkan per karung Rp35.000, untuk rata-rata hasil panennya kisaran 7 kilogram per 27 hari,” tukasnya.

