• 1 October 2026

Brebes Jadi Lokus Riset Peternakan RISPRO Invitasi PRIMA 2026

uploads/news/2026/10/brebes-jadi-lokus-riset-37289d025541359.jpg

Jagad Tani - Saat kebutuhan pangan terus meningkat, penelitian juga dituntut untuk mampu melahirkan inovasi yang bisa memperkuat bidang produksi, sumber daya genetik, teknologi, hingga rantai peternakan nilai dari hulu sampai hilir.

Pembahasan mengenai hal tersebut dibahas pada pertemuan yang berlangsung pada Rabu (30/9) di Kantor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan.

Baca juga: Pantauan Harga Cabai Rawit-Cabai Keriting di Jakarta

Pihak yang dilibatkan meliputi, Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Pemerintah Kabupaten Brebes, dengan usulan penelitian yang bertajuk “Pembangunan Kawasan Pangan Produktif Berkelanjutan melalui Penguatan Rantai Nilai Protein Hewani Berbasis Ekonomi Sirkular dan Teknologi Inovasi”.

Semangat tersebut mengemuka dalam pertemuan dan pembahasan usulan Riset Inovatif Produktif Invitasi - Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (RISPRO Invitasi PRIMA) Tahun 2026.

Dalam usulan itu, Kabupaten Brebes ditetapkan sebagai salah satu lokus kegiatan sekaligus daerah yang menyatakan kesiapan untuk mendukung kolaborasi antara pemerintah pusat, BRIN, dan pemerintah daerah.

Menurut Sekretaris Ditjen PKH Kementan, Nuryani Zainuddin, menilai penelitian yang dikembangkan harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebutuhan pembangunan dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sistem peternakan.

Nuryani melanjutkan bahwa agenda riset terkait pangan dapat menjadi momentum untuk memperkuat posisi peternakan sebagai bagian penting dari sistem pertanian secara keseluruhan.

“Sebetulnya momentumnya sangat bagus dengan adanya kegiatan yang mengarah ke pangan. Lokomotif awal sistem pertanian itu sebetulnya dimulai dari peternakan,” ungkapnya.

Gagasan tersebut mengarah kepada pembahasan mengenai pengembangan kawasan peternakan yang terintegrasi sekaligus memperluas sentra produksi ke berbagai wilayah.

Adapun salah satu contohnya yakni rencana pengembangan pilot project kluster sapi perah di Padang Mengatas, Sumatera Barat, yang dirancang dari sektor hulu hingga hilir untuk membantu memenuhi kebutuhan susu lokal.

Sementara untuk pengembangan, juga dikaitkan dengan upaya perluasan sentra sapi perah di luar Pulau Jawa, mengingat sekitar 95 persen populasi sapi perah dianggap masih ada di Pulau Jawa.

Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyoroti pentingnya aspek keamanan hayati dalam menghadapi perkembangan teknologi seperti gene editing dan rekayasa genetika.

Bahkan kemajuan teknologi juga dinilai oleh Santoso akan mengubah pendekatan dalam proses sertifikasi dan penetapan galur ternak.

“Ke depan, sertifikasi dan penetapan galur ternak tidak hanya melihat performa fisik, tetapi berdasarkan biologi molekuler dan skrining genotipe, yang disinergikan dengan penelitian BRIN,” jelasnya.

Penguatan aspek genetika tersebut juga dikaitkan dengan rencana transformasi Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang. Dalam pembahasan, nomenklatur BET Cipelang direncanakan berubah menjadi Balai Embrio dan Genetika Ternak.

Pengembangan kelembagaan ini diarahkan untuk memperkuat penerapan teknologi genetika sekaligus mendukung proses sertifikasi dan penetapan galur ternak yang semakin didasarkan pada pengujian molekuler.

Sedangkan untuk Kabupaten Brebes juga dinilai memiliki potensi sumber daya genetik lokal yang turut menjadi bagian penting dalam agenda kolaborasi penelitian tersebut.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Brebes, Ismu Subroto, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong proses penetapan galur ternak lokal agar potensi genetik yang dimiliki daerah dapat dikembangkan dan mendapatkan pengakuan.

“Kabupaten Brebes ingin memeriksa kemajuan penetapan Domba Tanjung, yang kedua, nanti Brebes juga akan mengajukan permohonan penetapan Domba Sakub,” kata Ismu.

Selain Domba Tanjung dan Domba Sakub, kerja sama dengan BRIN juga akan diarahkan untuk mendukung pengajuan penetapan sumber daya genetik lainnya, termasuk sapi keturunan dari Bengkulu dan Ayam Cemani.

Dengan demikian, penelitian tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan kajian, tetapi juga mendukung pengelolaan dan pengembangan potensi genetik ternak yang dimiliki daerah.

Pembahasan tersebut selanjutnya akan dibahas melalui forum group Discussion (FGD) yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada Kamis 8 Oktober 2026 untuk memperdalam dan menyelaraskan langkah antara Kementan, BRIN, dan Pemerintah Kabupaten Brebes.

Related News