• 6 October 2026

Stabilitas DOC Dijaga Demi Kesejahteraan Peternak Lokal

uploads/news/2026/10/stabilitas-doc-dijaga-demi-249757eb05fbe4e.jpg

Jagad Tani - Kondisi dari sektor perunggasan, khususnya ketersediaan bibit Day Old Chick (DOC atau anakan ayam) untuk ayam broiler pada saat ini relatif stabil. Sehingga industri pembibitan perlu dijaga dari segi produksi dan stabilitas harga di sepanjang rantai usaha.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Asrokh Nawawi, dalam komitmennya untuk menjaga harga DOC sesuai harga acuan pemerintah (HAP).

Baca juga: Timnas Juara, Harga Cabai Juga Ikut Menyala

Adapun harga DOC broiler saat ini yakni Rp7.000 per ekor, loco pabrik dan non-vaksin, sedangkan DOC layer Rp11.000 per ekor, loco pabrik dan non-vaksin. Para distributor dan mitra usaha dinilai harus menjaga batas wajar harga, agar dapat terjaga hingga tingkat peternak.

“Kami pimpinan dan pengurus GPPU telah berkoordinasi dengan Ditjen PKH (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan) melalui Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak untuk bersama-sama berkomitmen menjaga produksi dan stabilitas harga,” ujar Asrokh.

Sinergi tersebut tidak hanya diarahkan pada pembibitan, tapi juga untuk menjaga keseimbangan produksi, pasokan, penyerapan, distribusi, dan harga produk perunggasan, termasuk telur ayam ras di tingkat peternak.

Langkah tersebut antara lain dilakukan dengan memperkuat penyerapan pasar, memperlancar distribusi dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan, serta mendorong pengaturan produksi secara terukur.

Di sisi hilir, pengembangan industri pengolahan telur, termasuk tepung telur (egg powder) diharapkan menjadi salah satu alternatif penyerapan ketika produksi meningkat, dan bisa diperluas untuk kebutuhan industri pangan, bakery, hotel, restoran, hingga katering.

Pada sisi produksi, flock replacement bisa dilakukan secara teratur dan tidak menunda afkir ayam yang telah memasuki akhir masa produktif. Demi menjaga produktivitas flock, populasi dan kemampuan serapan pasar disesuaikan, dan efisiensi biaya produksi ditingkatkan.

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak (Kementerian Pertanian) Kementan, Hary Suhada, menyambut baik komitmen GPPU untuk bersama-sama menjaga produksi dan stabilitas harga perunggasan.

“Kami berharap seluruh mata rantai perunggasan terus bekerja sama agar ketersediaan DOC terjaga, harga tetap wajar, dan peternak memperoleh kepastian dalam menjalankan usahanya,” ujar Hary di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (5/10).

Menurutnya, untuk menjaga keseimbangan ekosistem, pihaknya dan para pelaku usaha menjadi kunci, agar kebijakan perbibitan dan produksi dapat berjalan efektif di lapangan, serta pelaku industri berperan memastikan produksi dan distribusi berjalan dengan baik.

Hary menegaskan bahwa stabilisasi perunggasan membutuhkan keterlibatan seluruh mata rantai usaha, mulai dari pembibitan, pakan, budidaya, pengolahan, distribusi hingga konsumen.

“Yang kita jaga bukan hanya harga, tetapi ekosistemnya. Produksi harus berkelanjutan, peternak memperoleh harga yang layak, distribusi berjalan, industri berkembang, dan masyarakat tetap mendapatkan produk pangan asal unggas dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Dengan penguatan koordinasi dari hulu hingga hilir, keseimbangan ekosistem perunggasan nasional bisa terjaga. Upaya ini diharapkan bisa memperkuat daya saing industri, meningkatkan nilai tambah, sekaligus memberikan kepastian bagi keberlanjutan usaha peternak rakyat. 

Related News