Harga Ikan di Palangka Raya Naik, Ini Penyebabnya
Jagad Tani - Memasuki bulan Oktober, sejumlah harga ikan konsumsi di pasar tradisional Kota Palangka Raya seperti Pasar Besar dan Pasar Kahayan, sejumlah komoditas ikan mengalami kenaikan harga.
Berdasarkan hasil survei harga yang dilakukan Dinas Perikanan Kota Palangka Raya per 5 Oktober 2026, harga ikan belida atau pipih di Pasar Besar, naik hingga 87,50%, dari yang sebelumnya Rp40.000 per kg, kini menjadi Rp75.000 per kg.
Baca juga: Putri Malu: Gulma di Indonesia, Jadi Berlian di Eropa-AS
Kepala Dinas Perikanan Kota Palangka Raya, Indriati Ritadewi, menjelaskan kenaikan juga terjadi pada ikan hasil budidaya seperti nila, lele, dan patin. Kondisi ini terjadi tidak lepas dari tingginya harga pakan yang jadi beban bagi pembudidaya.
"Naiknya harga ikan budidaya disebabkan karena mahalnya harga pakan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pembudidaya sekaligus konsumen di tengah kondisi ekonomi saat ini," ungkap Indriati, Rabu (7/10).
Untuk harga ikan nila di Pasar Besar terjadi kenaikan sebesar 25%, semula Rp48.000 per kg, kini menjadi Rp60.000 per kg. Sedangkan di Pasar Kahayan terjadi kenaikan sebesar 18,18% yakni dari Rp55.000 per kg, menjadi Rp65.000 per kg.
Kondisi serupa juga terjadi pada lele sungai, di Pasar Besar harganya naik 25% dari Rp40.000 per kg menjadi Rp50.000 per kg. Adapun di Pasar Kahayan juga terjadi kenaikan sebesar 20% dari Rp50.000 per kg menjadi Rp60.000 per kg.
"Untuk komoditas ikan laut, pasokan juga belum sepenuhnya normal. Di Pasar Besar, harga udang laut naik 33,33% menjadi Rp120.000 per kg. Sementara di Pasar Kahayan, cumi-cumi mengalami kenaikan menjadi Rp130.000 per kg," jelasnya.
Akan tetapi, tidak semua ikan mengalami kenaikan. Di Pasar Besar, ikan baung dan biawan secara berurutan tercatat mengalami penurunan sekitar 7,69% dan 57,14%. Untuk Pasar Kahayan harga normal di Rp50.000 per kg, sementara ikan biawan stabil di Rp80.000 per kg.
Dalam laporannya, pihak Dinas Perikanan menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan ketersediaan pasokan dan kenaikan harga. Misalnya yang terjadi pada kenaikan harga ikan budidaya disebabkan oleh mahalnya harga pakan.
Selain itu, keterbatasan pasokan dari Banjarmasin juga turut menyebabkan beberapa ikan laut belum tersedia di sejumlah lapak pedagang. Begitu pun dengan ketersediaan ikan sungai yang dipengaruhi oleh kondisi alam, sebab hasil tangkapan nelayan sangat bergantung pada cuaca.
Kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah juga berdampak terhadap aktivitas nelayan sehingga hasil tangkapan tidak selalu tersedia dalam jumlah melimpah. Ketersediaan stok dan ukuran ikan sungai juga memengaruhi harga.
Misalnya saja stok ikan saluang, tenggiri, selar, tongkol putih, bawal keramba, patin sungai, saluang, hingga udang sungai yang kosong saat disurvei di Pasar Kahayan. Untuk Pasar Besar, ikan selar, kembung, tenggiri, patin sungai, udang sungai dan jelawat, juga terpantau kosong.
"Kami akan terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan ikan di pasar, serta berupaya mendukung ketahanan pangan masyarakat melalui pembinaan kepada para pembudidaya dan nelayan lokal," pungkasnya.

