Telur Peternak Solo Diserap Gerakan Bela Beli
Jagad Tani - Sebanyak 4,5 ton telur ayam produksi sembilan peternak di Solo, Jawa Tengah, diserap melalui Gerakan Bela Beli Telur Peternak sebagai upaya memperluas daya serap telur peternak yang digelar di Kantor Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kamis (8/10).
Indra Wijayanto, selaku Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas mengatakan, gerakan ini jadi bentuk dukungan untuk meningkatkan serapan produksi, di tengah kondisi harga telur di tingkat peternak yang berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).
Baca juga: Langkah Pengawasan Kejar Keseimbangan Harga Telur Peternak
“Kita melakukan aksi gerakan bela beli telur peternak dari Solo, di mana kegiatan ini kita mendatangkan telur sekitar 4,5 ton langsung tadi malam dari Solo dan kita jual kepada pegawai di Bapanas, Kementerian Pertanian, dan teman-teman dari Id Food maupun dari Bulog,” ujar Indra, Kamis (8/10).
Menurutnya, meskipun dilakukan dalam skala terbatas, partisipasi pembelian tersebut diharapkan bisa meningkatkan daya serap telur yang saat ini harganya lebih rendah dari HAP, dan bisa menjadi contoh untuk diikuti banyak pihak.
Adapun Manager Executive Koperasi Jasa Pinsar Petelur Nasional (KJPPN) Agus Waryanto menjelaskan, Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) Bapanas membantu membuka akses pasar bagi telur produksi peternak Solo melalui dukungan transportasi dan pengemasan.
Agus menyampaikan, harga telur di tingkat peternak di Solo berada di kisaran Rp 22.500 per kg. Melalui Gerakan Bela Beli Telur Peternak, produksi telur tersebut difasilitasi untuk dibawa ke Jakarta dan kemudian dibeli dengan harga Rp 24.000 per kg.
“Kalau di Solo itu harganya sekitar Rp22.500. Kemudian di Jakarta di Kompleks Kementerian Pertanian dijual dengan harga Rp24.000. Ini adalah berkat,” ungkap Agus Waryanto.
Ia berharap partisipasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, BUMN, hingga ASN dalam gerakan tersebut dapat terus diperluas sehingga semakin banyak produksi peternak yang memperoleh akses pasar.
“Kami selaku Koperasi Pinsar Petelur Nasional mengucapkan terima kasih karena paling tidak memberikan harapan baru di tengah bagaimana sulitnya para peternak untuk menjual telur. Saya kira ini memberikan semangat baru kepada para peternak,” ujarnya.
FDP dinilai jadi salah satu instrumen untuk memobilisasi telur dari wilayah surplus ke wilayah yang membutuhkan. Hingga 2 Oktober 2026, Bapanas mencatat ada 5.040 kilogram telur ayam ras dari Blitar, Jawa Timur, ke Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, disalurkan melalui FDP.
Selain FDP, Gerakan Pangan Murah (GPM) juga menjadi salah satu instrumen perluasan akses masyarakat terhadap pangan, serta membuka ruang pemasaran bagi pelaku usaha pangan. Sepanjang Januari-Oktober 2026, GPM telah dilaksanakan sebanyak 9.333 kali.
Gelaran itu dilakukan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan lokasi lainnya. Kedua instrumen, diharapkan bisa terus dimanfaatkan untuk memperluas akses pasar meningkatkan daya serap telur peternak, terutama dari wilayah yang mengalami surplus produksi.
Sementara itu, dari sisi pembeli, Anim Permana menjelaskan jika Gerakan Bela Beli ini memberi manfaat bagi pegawai yang berpartisipasi sekaligus diharapkan dapat membantu memperluas serapan produksi peternak.
“Kalau pribadi saya, ini sangat membantu kami sebagai pegawai. Kami juga berharap mudah-mudahan peternak bisa mendapatkan serapan yang lebih baik lagi untuk ternak ayam petelurnya. Dengan adanya kegiatan ini, semoga semua pihak bisa saling terbantu,” imbuh Anim.

