Cegah Masuknya Air Laut ke Sawah, Infrastruktur Diperkuat
Jagad Tani - Penanganan intrusi air laut untuk penyelamatan 8.000 hektare lahan pertanian di Daerah Irigasi Rawa (DIR) Pisang, Kabupaten Lampung Selatan, dipercepat, guna memperlancar aliran air, menjaga ketersediaan air baku lahan, serta mencegah potensi gagal panen.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan penguatan infrastruktur sumber daya air menjadi salah satu fondasi dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional, sehingga produktivitas pertanian dapat terus dijaga.
Baca juga: Langkah Pengawasan Kejar Keseimbangan Harga Telur Peternak
“Kehadiran infrastruktur sumber daya air sangat penting untuk mendukung ketersediaan air irigasi pertanian, menjaga produktivitas lahan, serta memastikan pasokan pangan tetap terjaga,” ungkap Dody dalam keterangan resminya, Kamis (8/10).
Dilanjutkan bahwa melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, penanganan dilakukan pada jaringan saluran yang terhubung dengan Sungai Way Sekampung dan Saluran Pembuang Sekunder (SPS) Sragi.
Adapun pengerjaannya meliputi normalisasi saluran suplesi dari Sungai Way Sekampung menuju SPS Sragi sepanjang sekitar 1,3 kilometer (km) serta normalisasi SPS Sragi sepanjang 3.2 km.
Secara keseluruhan, pekerjaan tersebut mencapai sekitar 4.5 km, dan normalisasi dilakukan untuk meningkatkan kapasitas serta kelancaran aliran air menuju jaringan irigasi sehingga suplai air dapat lebih optimal untuk kebutuhan pertanian.
Selain normalisasi saluran, perbaikan empat unit pintu Tabat Gayau dan 13 unit pintu pembuang telah diselesaikan. Bahkan 3 unit gorong-gorong sepanjang 30 meter (m) juga telah dipasang, disertai pasangan batu kali untuk memperkuat konstruksi gorong-gorong.
Penanganan itu jadi bagian dari upaya memperlancar distribusi air ke saluran pertanian serta mengendalikan masuknya air laut ke jaringan. Di lapangan, lanjut Doddy, air dari Sungai Way Sekampung dipompa menuju saluran sepanjang 700 m menggunakan mobile pump.
Demi memperlancar aliran menuju saluran pertanian, pengangkatan sedimentasi dilakukan pada Saluran Pembuangan Primer (SPP) Sekampung-SPS Sragi sepanjang 5,8 km dan SPP Sekampung-SPP Bali Agung sepanjang 5,6 km dengan mengunakan 5 unit Excavator Long Arm.
Material sedimen diangkat agar aliran air dapat diteruskan ke saluran SPP dan selanjutnya dipompa menuju sawah. Bahkan perbaikan Tabat Gayau juga menjadi bagian dari pengendalian tata air.
Tabat berfungsi mengatur aliran saluran. Pada musim hujan, pintu dapat dibuka untuk membuang aliran ke Sungai Sekampung, sedangkan di musim kemarau pintu ditutup untuk menahan intrusi air asin sekaligus menahan air hasil pompanisasi agar tetap mengalir di saluran SPP.
Penanganan tersebut, diharapkan bisa memperlancar dan mengntrol alilran air hingga ke jaringan pertanian, serta menjaga keberlanjutan pasokan air baku sawah, dan dapat membantu masyarakat mempertahankan produktivitas pertanian di wilayah terdampak intrusi air laut.

