• 9 October 2026

Dampak Mengerikan Karhutla, Satwa Endemik Kalimantan Bisa Punah

uploads/news/2026/10/dampak-mengerikan-karhutla-satwa-2045879b3ffa593.jpg

Jagad Tani - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di Kalimantan bukan hanya menimbulkan persoalan kabut asap, tetapi juga mengancam kelestarian dan keselamatan satwa endemik di Indonesia.

Bahkan Pulau Borneo yang dikenal sebagai salah satu "paru-paru dunia", sekaligus jantung ekologis Indonesia ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang hidup di sana. Namun cukup disayangkan, habitatnya kini terus terancam akibat siklus karhutla tahunan.

Baca juga: Segini Harga Kedelai Impor untuk Tahu-Tempe Terkini

Melansir dari laman IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, menjelaskan bahwa karhutla di Kalimantan dan Sumatra tidak terlepas dari aktivitas manusia.

Hal itu dilakukan oleh manusia baik dari pihak korporasi maupun perorangan. Oleh sebab itu, Abdul menegaskan yang terjadi di sana bukan terbakar, melainkan dibakar. Sehingga dapat mengakibatkan satwa liar terancam punah, hilang habitat, sumber makanan, dan sumber air.

Berdasarkan data resmi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan World Wildlife Fund (WWF), lebih dari 361 spesies hewan di Kalimantan kini terancam punah, dan masuk kategori Critically Endangered atau selangkah lagi menuju kepunahan di alam liar.

Melalui data sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menunjukkan ada 14.085 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. 

Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Selasa (1/9/2026) pukul 11.36 WIB. Dari 14.085 titik panas terdeteksi, 939 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 12573 titik skala sedang, dan 573 titik skala rendah.

Adapun untuk titik panas yang terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat yakni sebanyak 5339 titik, menyusul Kalimantan Tengah di posisi kedua dengan jumlah titik panas sebanyak 3950 titik, disusul Kalimantan Timur berada di posisi ketiga sebanyak 869 titik panas.

Belum lagi jumlah luasan lahan hutan yang terbakar, dalam laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah per 30 Agustus 2026 tercatat luas area hutan dan lahan yang terbakar mencapai 6.358,71 hektare di wilayah Kalimantan Tengah.

Bahkan dalam catatan SiPongi, dari total luas karhutla di Indonesia 2026 yang mencapai 202.010,96 hektare (ha). Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luasan karhutla terbesar, yakni mencapai 38.310,86 ha.

Sementara itu, Kalimantan Selatan berada di peringkat kedelapan dengan luas 8.019,63 ha, disusul Kalimantan Tengah di peringkat kesembilan dengan luas 7.634,46 ha, dan menempatkan tiga provinsi di Kalimantan berada di posisi 10 besar lokasi karhutla terluas.

Tentunya luasan kebakaran ini menjadi ancaman besar bagi para satwa, di mana sebagian besar hutan Kalimantan merupakan ruang hidup sekaligus habitat alami dari enam satwa berikut, dan jika tidak ditangani dengan baik, bukan tidak mungkin satwa-satwa ini akan punah.

  1. Lutung Kutai (Presbytis canicrus): Primata langka khas Kalimantan Timur ini berstatus Critically Endangered dengan populasi kurang dari 250 individu dewasa akibat kehilangan 80% wilayah habitat aslinya.
  2. Bekantan (Nasalis larvatus): Primata berhidung panjang yang mendiami kawasan rawa dan hutan mangrove ini mengalami penurunan populasi lebih dari 50% dalam empat dekade terakhir, sehingga berada dalam status Endangered (terancam).
  3. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus): Populasi kera besar ini berstatus Endangered, dan telah menyusut lebih dari 80% akibat fragmentasi hutan dan kebakaran lahan.
  4. Rangkong Gading (Rhinoplax vigil): Burung yang disakralkan oleh masyarakat Dayak ini juga berstatus Critically Endangered, serta makin terancam keberadaanya karena perburuan paruh (casque) dan hilangnya populasi pohon tua sebagai tempat bersarangnya.
  5. Macan Dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis): Statusnya di IUCN, yakni Vulnerable (Rentan). Dalam studi gabungan WWF dan Smithsonian Institution tercatat predator ini telah kehilangan lebih dari 30% habitatnya. Publikasi jurnal Global Ecology and Conservation (2021) juga mengonfirmasi penurunan tajam macan dahan melalui kamera jebak dalam 5 tahun terakhir.

Dampak dari karhutla ini bukan cuma mengancam kehidupan manusia, tapi juga mengancam lingkungan dan kelangsungan hidup flora dan fauna endemik Kalimantan, serta dapat meruntuhkan rantai makanan, hingga menghentikan regenerasi kawasan hutan tropis. 

Tentunya kita bisa mengatasi masalah ini dengan cara menjaga dan melestarikan hutan serta lahan gambut, mendukung penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, mengedukasi dan mengajak orang lain untuk peduli lingkungan, serta terlibat aktif di dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.

Related News