Stabilkan Harga, Pemerataan Distribusi Dilakukan Champions Cabai
Jagad Tani - Penstabilan harga cabai, kian diperkuat dengan dilakukan pendistribusian dari daerah sentra produksi atau Champion Cabai Indonesia ke wilayah yang kekurangan pasokan.
Langkah tersebut dilakukan seiring jumlah produksi cabai rawit nasional yang diperkirakan mencapai 133,1 ribu ton pada Oktober 2026, sehingga ketersediaan pasokan perlu diimbangi dengan distribusi yang merata.
Baca juga: Kampanye Hijau, FKBN Budi Luhur Tanam Pohon Puspa di Kaki Gunung Salak
Menurut Direktur Jenderal Hortikultura, Muhammad Taufiq Ratule, distribusi jadi salah satu faktor penting dalam memengaruhi pergerakan harga, terutama ketika pasokan perlu dialihkan ke wilayah yang mengalami defisit.
”Kita punya champion yang memiliki logistik untuk daerah defisit. Kita mengirim ke daerah-daerah defisit, seperti dari Surabaya kita kirim ke Sulawesi Utara. Yang Halmahera sekarang proses dari Malang,” ucap Taufiq pada Kamis (8/10).
Dilanjutkan bahwa koordinasi dengan petani dan Champion Cabai Indonesia terus diperkuat, untuk memperoleh informasi aktual mengenai kondisi pertanaman, jadwal panen, volume produksi, serta kebutuhan pasar di berbagai daerah.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI), Ardhi Wibowo, menyampaikan jika petani cabai di berbagai sentra masih menjalankan kegiatan produksi dan siap mendukung kesinambungan pasokan nasional.
“Produksi cabai tetap berjalan. Petani dan Champion Cabai di berbagai daerah terus melakukan penanaman dan panen sesuai kondisi pertanaman masing-masing,” terang Ardhi.
Ardhi melanjutkan, jejaring Champion Cabai punya peranan strategis karena berhubungan langsung dengan kondisi pertanaman dan perkembangan pasar. Komunikasi ini bisa membantu mempercepat pertukaran informasi mengenai waktu panen, volume produksi, dan perubahan harga.
“Champion Cabai bukan hanya berbicara tentang produksi. Kami juga menjadi bagian dari jejaring petani yang saling berbagi informasi mengenai pertanaman, panen, dan kebutuhan pasar. Ketika produksi tersedia, komunikasi dan distribusi juga harus berjalan dengan baik agar pasokan dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan,” jelasnya.
Ditambahkan, kepastian pasar menjadi kebutuhan penting bagi petani, sedangkan masyarakat butuh pasokan cabai yang berkesinambungan. Karena itu, keseimbangan produksi, waktu panen, harga di tingkat petani, harga konsumen, dan kelancaran distribusi perlu terus dijaga melalui koordinasi.
Adapun Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, menjelaskan upaya menjaga ketersediaan cabai nasional tidak hanya dilakukan ketika harga mengalami kenaikan. Tapi juga memperkuat basis produksi lewat pengembangan kawasan, pendampingan petani, penguatan perbenihan, peningkatan produktivitas, dan pemantauan pertanaman di sentra-sentra produksi.
“Yang kita jaga bukan hanya ketersediaan cabai hari ini, tetapi juga kesinambungan produksinya. Karena itu, luas tanam, pertanaman yang sedang berjalan, dan potensi panen terus dipantau agar kita dapat mengetahui lebih awal kondisi pasokan pada periode berikutnya,” imbuhnya.

