• 12 October 2026

Tiga Pabrik Tepung Telur-Tepung Daging Bakal Dibangun

uploads/news/2026/10/tiga-pabrik-tepung-telur-tepung-51057a9e9d8a494.jpg

Jagad Tani - Pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging bisa menjadi solusi permanen dalam memperkuat ekosistem peternakan nasional, memperluas pasar hasil produksi peternak, menjaga stabilitas harga, dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Menurut Andi Amran Sulaiman, selaku Menteri Pertanian (Mentan) pembangunan pabrik jadi bagian dari strategi membangun ekosistem peternakan terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku pakan, penguatan produksi petani dan peternak, hingga penyerapan serta pengolahan hasil produksi.

Baca juga: Kampanye Hijau, FKBN Budi Luhur Tanam Pohon Puspa di Kaki Gunung Salak

“Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insyaallah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun,” ucap Amran, dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin (12/10). 

Dilanjutkan bahwa, pembangunan industri pengolahan jadi langkah dasar agar persoalan pemasaran hasil peternakan tidak berulang, sehingga perlu menghadirkan solusi jangka panjang yang mampu menyerap kelebihan produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar produk segar.

“Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,” terangnya.

Pembangunan tiga pabrik tersebut akan segera ditindaklanjuti melalui studi kelayakan atau feasibility study (FS), dan diperkirakan kebutuhan awal investasi sekitar Rp200 miliar per pabrik, dengan kemungkinan meningkat menjadi Rp250 miliar untuk fasilitas yang mencakup pengolahan daging.

Demi mengawal proses persiapan agar perencanaan, kebutuhan anggaran, dan pembangunan fasilitas dapat segera ditindaklanjuti, peluang keterlibatan swasta juga dibuka, “Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” terangnya.

Penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir ini dinilai memberi manfaat berlapis. Petani memperoleh pasar untuk jagung yang dihasilkan, peternak dapat kepastian pasokan pakan, sedangkan industri pengolahan menjadi saluran penyerapan ketika produksi telur dan daging melimpah.

Jika terjadi kelebihan produksi telur atau daging ayam, hasilnya dapat diolah menjadi produk dengan daya simpan dan pemanfaatan yang lebih luas. Dengan demikian, peternak tidak hanya bergantung pada penjualan produk segar yang rentan terhadap perubahan permintaan dan harga.

“Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,” tutur Amran.

Seluruh langkah itu bermuara pada satu tujuan, yakni menciptakan usaha peternakan yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan, serta memastikan peternak memperoleh pakan dengan harga terjangkau, memiliki kepastian pasar, serta tidak terus menanggung kerugian saat terjadi kelebihan produksi.

Peningkatan kesejahteraan petani dan peternak dinilai harus didukung oleh ekosistem usaha yang sehat. Produksi yang meningkat perlu diimbangi ketersediaan bahan baku, penyerapan hasil, dan industri yang mampu mengolah kelebihan produksi menjadi produk bernilai tambah.

Penguatan konsumsi protein masyarakat melalui ketersediaan sumber pangan yang beragam, termasuk ikan, ayam, dan telur pun dinilai penting. Penguatan produksi protein dalam negeri perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keterjangkauan harga dan memperluas pasar.

“Intinya bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Ii Cahyadi selaku anggota Pinsar sekaligus pelaku usaha peternakan melalui PT Bereh Poultry Indonesia di Subang, menilai pembangunan pabrik menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan pasar telur dari peternak lokal.

Cahyadi menilai industri pengolahan berskala besar butuh investasi dan kapasitas yang tidak mudah dipenuhi secara mandiri oleh peternak kecil atau koperasi. Pemerintah perlu terlibat dalam membangun fondasi industri sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri.

“Industri itu tidak mungkin ditangani sendiri oleh swasta, peternak-peternak kecil, ataupun koperasi karena membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan BUMN dari negara lain, baik India maupun China,” terangnya.

Related News