• 14 October 2026

Kopi Gayo Bakal Dikembangkan di Lereng Merapi

uploads/news/2026/10/kopi-gayo-bakal-dikembangkan-91590db88750b07.jpeg

Jagad Tani - Kopi arabika varietas Gayo 3 atau Ateng Super dari Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kini bakal dikembangkan oleh para petani kopi di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Varietas tersebut dikenal memiliki produktivitas tinggi, sehingga bisa menambah pilihan kopi unggulan bagi petani, sekaligus membuka peluang peningkatan hasil panen di wilayah Kemalang, di tengah perkembangan industri kopi.

Baca juga: Anomali Harga Daging-Telur Ayam, Mafianya Harus Ditindak

Setidaknya bibit kopi arabika Gayo 3 ini pada Kamis (8/10) diserahkan oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo kepada empat kelompok petani dari Desa Panggang, Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.

Selama ini, petani di empat desa tersebut sudah mengembangkan sejumlah varietas kopi arabika, seperti Lini S, Typica, dan Abissinia. Kehadiran Gayo 3 menambah keragaman varietas yang dapat dikembangkan di kawasan lereng Merapi Klaten.

“Kami berharap kopi Klaten semakin maju dan kembali berjaya, apalagi mengingat saat ini perkembangan di industri kopi saat ini sangat pesat,” ungkap Hamenang.

Kopi Gayo 3 dinilai sebagai salah satu varietas kopi unggul, dan dikenal mempunyai produktivitas panen tinggi jika dibandingkan rata-rata varietas lainnya, dan disebut mampu beradaptasi di dataran tinggi, termasuk kawasan vulkanik.

Pengembangan kopi Gayo 3 ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Klaten dan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, yang ditandatangani pada rangkaian peringatan Hari Jadi Klaten ke-222 di Alun-alun Klaten, Selasa (28/7/2026).

Adapun untuk bantuan benih bagi Kelompok Tani (KT) Giri Mulyo dari Desa Balerante yakni sebanyak 3,75 kilogram benih Kopi Gayo, sedangkan untuk Kelompok Tani Makarti Bogo dari Desa Panggang, sebanyak 3 kilogram. 

Sementara itu, perwakilan petani kopi dari Desa Sidorejo, Sukiman, menilai bibit yang diterima ini akan disemai dan dikembangkan selama sekitar tiga tahun sebelum bisa menghasilkan panen. “Harapannya panennya juga banyak sehingga meningkatkan produktivitas petani kopi di lereng Merapi,” harap Sukirman.

Related News