Cara Petani Pasuruan Atasi Lalat Buah Mangga
Jagad Tani - Pada saat memasuki musim panen raya buah mangga, para petani Mangga Putar Pasuruan atau Mangga Gadung Klonal 21 di Kecamatan Sukorejo dan Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, juga harus mewaspadai lalat buah agar hasil panen tetap optimal.
Sejak awal september lalu, rata-rata kebun mangga milik petani di dua kecamatan tersebut bisa berbuah lebat dan memasuki musim panen raya. Sugiono, petani mangga di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, punya cara sederhana namun efektif.
Baca juga: Cabai Rawit Sumbang Inflasi Harga Bulan September
Pria yang juga menjabat Kepala Desa Wonokerto ini intens melakukan pengendalian hama utama mangga, yakni lalat buah. Cara yang dilakukan ialah dengan memasang jebakan lalat buah pada tanaman mangga dengan menggunakan botol plastik bekas.
Adapun botol plastik bekas tersebut, diisi dengan sedikit air dan diberi atraktan Petrogenol (mengandung metil eugenol) untuk memikat lalat buah jantan masuk.
"Alat perangkap ini berfungsi untuk meminimalisir hinggapan lalat buah ke buah mangga, dan sangat efektif sekali supaya buah tetap bagus dan tidak busuk," ucapnya dalam keterangan tertulis Kamis (15/10).
Selain pengendalian lalat buah, perawatan serta pemupukan intens dinilai harus intens dilakukan agar bisa menghasilkan buah berkualitas dengan jumlah banyak. Musim kemarau dengan cuaca yang cukup terik, lanjutnya, sangat mendukung perkembangan buah mangga.
Hasilnya, dari 300 pohon mangga yang ditanam di kebun seluas 3,5 hektare, rata-rata dalam sehari bisa dipanen hingga mencapai 5 kwintal buah mangga.
"Kalau pas berbunga sampai berbuahnya di musim kemarau, hasilnya bagus. Seperti sekarang ini, saya bisa manen 5 kwintal mangga dalam sehari," jelas Sugiono.
Akan tetapi, buah mangga yang dipanen tersebut tidak langsung dijual, melainkan dipilih berdasarkan gradenya, baik Grade A, B dan Grade C alias sortir. Untuk mangga terbaik (Grade A) dijual antara Rp 25 ribu-Rp 30 ribu per 1 kilogram.
Sedangkan untuk Grade B mulai harga Rp 10 ribu-Rp 15 ribu, dan sisanya sortir dijual murah, apalagi langsung dari kebunnya. "Kalau yang grade A itu buahnya besar, bentuknya bagus, kulitnya mulus, jadi harganya paling mahal," jelasnya.
Mengenai penjualan, Sugiono sudah memilik sejumlah pelanggan yang selalu memesan mangganya. Bukan hanya dari Pasuruan, akan tetapi menyebar hingga ke berbagai pasar di Jawa Timur, DKI Jakarta sampai Kalimantan.
"Kalau yang di Jatim kebanyakan mulai dari Malang, Surabaya, Sidoarjo, Jember, Madiun, Banyuwangi. Kalau di luar jatim ya ke Cirebon, Banten, Jakarta, Bogor sampai Kalimantan," tuturnya.
Ia pun mengajak para pecinta buah mangga untuk datang ke kebunnya dan merasakan sensasi memetik mangga dari pohonnya. "Silahkan datang ke kebun kami, petik sendiri, ditimbang sendiri, bisa makan di sini," imbuhnya

