Masak yang Matang Sebelum Memakan Ikan Ini
Jagad Tani - Indonesia merupakan negara dengan jumlah konsumsi ikan yang cukup besar, sekaligus menjadi salah satu negara pemasok komoditas perikanan yang melimpah, karena kondisi geografisnya yang berada di wilayah maritim.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) total serapan tuna, tongkol, dan cakalang untuk konsumsi masyarakat Indonesia tahun 2023, yakni mencapai 1,57 juta ton.
Baca juga: Tembus Rp127.604/Kg, Cabai Rawit Sulut Kini Disuplai Jatim
Perlu diketahui, ternyata ikan tuna berlemak yang sering diolah menjadi sashimi atau ikan kaleng kerap mengandung parasit. Hal ini dijelaskan peneliti dari Federal University of Santa Catarina, Brasil.
Dalam penelitian tersebut, dari 53 ekor tuna yang ditangkap di perairan, sebanyak 96% ikan ditemukan terinfeksi parasit berupa cacing, dan lebih dari 1.600 cacing ditemukan dari seluruh sampel ikan yang diperiksa.
Hanya ginjal dan jantung yang secara konsisten tidak ditemukan parasit setelah berbagai organ ikan diperiksa dengan bantuan mikroskop. Tim peneliti tersebut kemudian mempublikasikannya dalam jurnal Ocean and Coastal Research.
Adapun untuk organ yang terinfeksi paling tinggi berada di usus, dan kemudian pada jaringan otot, yakni bagian ikan yang umumnya dikonsumsi manusia, serta bagian lambung ikan.
Membuang organ dalam ikan segera setelah ditangkap, dinilai sebagai langkah penting untuk mencegah larva berpindah dari organ dalam menuju jaringan otot, dan ada dua kelompok cacing yang menginfeksi ikan di penelitian, yakni Trypanorhyncha dan Anisakis.
Untuk jenis tuna yang diteliti tersebut, merupakan spesies Katsuwonus pelamis, atau di Indonesia lebih dikenal sebagai ikan cakalang, sementara di luar dikenal juga dengan nama skipjack tuna, oceanic bonito, atau katsuo.
Meski demikian, penelitian tersebut masih berskala kecil karena hanya melibatkan 53 ikan, sehingga hasilnya belum bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa 96% tuna atau cakalang di seluruh dunia terinfeksi parasit.
Tentunya para konsumen tidak langsung membuang tuna kalengan di rumah, sebab ikan cakalang perlu dimasak sampai matang agar parasit itu mati saat proses pemasakan, dan sebaiknya tidak dikonsumsi mentah atau tidak dimasak dengan sempurna.
Pasalnya, jika tidak dimasak sampai matang, parasit yang masih hidup bisa menempel pada dinding saluran pencernaan manusia, dan dapat menyebabkan sejumlah gangguan pencernaan, mulai dari sakit perut, mual, muntah hingga diare.
Pada tahun 2020, berdasarkan studi dari peneliti University of Washington, ditemukan indikasi peningkatan jumlah parasit Anisakis dalam makanan laut mentah, jumlah cacing Anisakis ditemukan meningkat sekitar 280 kali lipat sejak 1970-an.
Awalnya hanya ditemukan rata-rata kurang dari satu cacing pada setiap 100 ikan yang ditangkap, berubah menjadi lebih dari satu cacing pada setiap ikan inang.
Kondisi tersebut dinilai ahli parasit dari University of Washington, Chelsea Wood, tidak serta-merta menjadi pertanda buruk bagi manusia maupun ekosistem laut, karena parasit tersebut sebenarnya tidak menjadikan manusia sebagai inang utama.
"Siklus hidup anisakis melibatkan banyak komponen dalam rantai makanan. Saya melihat keberadaan mereka sebagai sinyal bahwa ikan di piring anda berasal dari ekosistem yang sehat," jelas Wood.
Menanggapi hal tersebut, Wood menjelaskan agar para konsumen, bisa melakukan cara yang paling sederhana dalam menekan risiko tersebut, yaitu dengan memasak ikan secara matang.
"Memasak (dapat) membunuh berbagai parasit yang kita temukan dalam makanan. Hanya (saja) ketika kita mengonsumsi makanan mentah atau kurang matang, kita berpotensi berhadapan (langsung) dengan parasit hidup dan infeksius (di makanan)," imbuhnya.

