• 19 October 2026

Langkah Antisipasi Potensi Penurunan Produktivitas Perkebunan

uploads/news/2026/10/langkah-antisipasi-potensi-penurunan-686073aeab0bc23.jpg

Jagad Tani - Memasuki bulan Oktober 2026, di tengah kondisi cuaca yang belum menentu, beberapa langkah dilakukan untuk mengantisipasi potensi penurunan produktivitas perkebunan akibat kondisi curah hujan yang bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, langkah mitigasi yang dilakukan disusun dengan mempertimbangkan prakiraan curah hujan, karakteristik komoditas, serta kondisi dan fase pertumbuhan tanaman.

Baca juga: Kepulauan Lucipara Bakal Disiapkan untuk Konservasi Perairan

Untuk wilayah bercurah hujan rendah, diarahkan pada upaya menjaga ketersediaan air dan kelembapan tanah. Sementara, wilayah bercurah hujan tinggi perlu mengantisipasi genangan, gangguan akses panen, erosi, dan peningkatan risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

“Mitigasi perlu dilakukan sejak dini dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah serta kebutuhan komoditas,” ungkap Heru dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/10).

Dilanjutkan bahwa para petani dan seluruh pemangku kepentingan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemantauan rutin, serta menerapkan langkah adaptasi agar produktivitas perkebunan tetap terjaga.

Pada wilayah bercurah hujan rendah, lanjut Heru, mitigasi dilakukan melalui penggunaan mulsa dan bahan organik, pemeliharaan penutup tanah, konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan rorak atau sarana penampungan air.

Adapun penyediaan air perlu diprioritaskan bagi tanaman muda yang rentan mengalami cekaman kekeringan bagi komoditas seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, kelapa, dan lada. Khusus pada tanaman tebu, pengelolaan air perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan.

Tanaman yang masih aktif tumbuh dinilai dapat memperoleh pengairan tambahan secara efisien apabila tersedia, sedangkan pada fase pemasakan, pemberian air berlebih perlu dihindari dan jadwal tebang disesuaikan dengan kondisi tanaman.

Sementara itu, di wilayah bercurah hujan tinggi, upaya mitigasi mencakup perbaikan dan pemeliharaan drainase, pencegahan genangan, pemangkasan tajuk untuk menjaga sirkulasi udara, serta sanitasi kebun dan pemantauan penyakit tanaman.

Pada komoditas tanaman karet, kegiatan penyadapan perlu disesuaikan dengan kondisi hujan, sedangkan pada kopi dan kakao, penanganan diarahkan untuk menekan risiko penyakit daun dan buah.

Melalui mitigasi yang tepat sasaran selama Oktober 2026, risiko kerugian akibat kondisi cuaca diharapkan dapat ditekan sehingga keberlanjutan usaha perkebunan dan ketersediaan bahan baku tetap terjaga.

Di tempat yang berbeda, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan pentingnya langkah antisipasi untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian, termasuk subsektor perkebunan.

“Pendampingan kepada petani, penguatan koordinasi, dan penerapan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan harus terus dilakukan agar produktivitas tetap terjaga dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” tukas Amran.

Related News