Kimpul, Pangan Lokal Alternatif Pengganti Nasi
Jagad Tani - Melesatnya popularitas kimpul (Xanthosoma sagittifolium) di media sosial, bisa menjadi peluang dalam mengenalkan kekayaan pangan lokal Indonesia. Sebab umbi ini berpotensi menjadi sumber pangan alternatif serta bahan baku produk bernilai ekonomi.
Menurut Guru Besar Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Andalas (UNAND), Tuty Anggraini, tren kimpul ini jadi momentum untuk memperkuat diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras.
Baca juga: Festival Ngubek Tambak Randuboto, Ratusan Warga Nyemplung
Mencuatnya oleh konten kreator yang mengolah berbagai makanan dengan mengganti bahan utamanya menggunakan kimpul, lewat jargon “karena saya tidak punya bahannya, saya ganti kimpul” jadi pemantik rasa penasaran masyarakat terhadap potensi umbi lokal itu.
"Kimpul dan beragam umbi lainnya merupakan sumber karbohidrat yang dapat memperkaya pilihan konsumsi masyarakat. Pemanfaatannya perlu disertai pemahaman mengenai jenis bahan, cara pengolahan, porsi, serta keseimbangan gizi," ungkapnya dalam siaran pers, Senin (19/10).
Bahkan Tuty juga menyoroti anggapan umum masyarakat Indonesia "bahwa belum makan kalau, belum makan nasi” sebagai tantangan untuk pengenalan pangan alternatif. Oleh karena itu, perubahan pola konsumsi bissa dilakukan secara bertahap lewat variasi menu harian.
Adapun varian menu harian masyarakat bisa dilakukan dengan memilih ubi rebus untuk sarapan, nasi pada siang hari, serta olahan umbi lainnya pada malam hari, dan variasi menu itu perlu dilengkapi sumber protein, sayuran, dan buah.
Untuk Sumatera Barat, pengolahan umbi dinilai sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, misalnya dibuat jadi keripik singkong atau sanjai. Potensinya pun masih terbuka luas untuk dikembangkan dengan inovasi produk dan teknologi pengolahan.
"Pengolahan umbi menjadi tepung dapat memperpanjang umur simpan sekaligus memperluas penggunaannya sebagai bahan pangan. Langkah ini juga berpeluang meningkatkan nilai jual dibandingkan pemasaran dalam bentuk segar," sambungnya.
Pada tahap lanjut, pati umbi dapat dikembangkan menjadi dekstrin, maltodekstrin, maupun bahan pembentuk edible film. Pengembangan lapisan berbasis pati tersebut masih memerlukan penelitian untuk memastikan karakteristik dan kesesuaiannya bagi berbagai kebutuhan.
Tentunya popularitas kimpul bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal.
"Diversifikasi pangan membutuhkan keterlibatan masyarakat, peneliti, dan pelaku industri. Kebiasaan mengonsumsi pangan lokal perlu berjalan bersama pengembangan produk yang aman, menarik, dan memiliki pasar," tukasnya.

