• 20 October 2026

Indonesia Buka Peluang Tilapia-Rumput Laut ke Eropa

uploads/news/2026/10/indonesia-buka-peluang-tilapia-rumput-5782853a981f0d8.jpg

Jagad Tani - Indonesia membuka peluang investasi dan kemitraan di bidang budidaya perikanan nila (tilapia) dan rumput laut dari hulu sampai hilir, kepada para investor saat gelaran Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (15/10) lalu. 

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, keterhubungan kawasan perikanan budi daya di hulu dengan industri pengolahan serta pasar menjadi penting agar hasil panen memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi pembudidaya.

Baca juga: Potret Kelam Satwa Akibat Kebakaran Hutan

“Melalui Indonesia–Europe Business Forum 2026, kita dapat duduk bersama, berdiskusi, dan berkolaborasi untuk menemukan solusi terbaik yang saling menguntungkan,” ujar Trenggono dalam siaran resmi di Jakarta, Sabtu (17/10).

Pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sambungnya, memiliki sejumlah program di bidang perikanan budi daya, diantaranya revitalisasi tambak Pantai Utara Jawa Barat untuk komoditas tilapia.

Selain itu, Trenggono menilai, tambak budi daya udang terintegrasi di Waingapu, juga ada budi daya ikan darat tematik di berbagai wilayah Pulau Jawa. Untuk rumput laut, pihaknya masih terus melakukan upaya peningkatan produksi di berbagai wilayah.

Untuk komoditas rumput laut, kemitraan bisa diarahkan pada penyediaan bibit berkualitas, penerapan mekanisasi dan teknologi budi daya, serta perbaikan pengeringan dan penyimpanan hasil panen.

Penguatan dari hulu hingga pascapanen diperlukan untuk menjaga konsistensi mutu bahan baku sekaligus mendukung pengembangan produk rumput laut bernilai tambah bagi pasar global.

Perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo, memaparkan, nilai ekspor tilapia Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai US$87,57 juta. Amerika Serikat menjadi tujuan utama dengan pangsa 51,7%, disusul Kanada sebesar 24,7%, adapun ekspor ke Uni Eropa mencapai US$7,13 juta atau 8,1%.

ATI juga menunjukkan bahwa nilai ekspor per kilogram tilapia Indonesia mencapai US$ 6,98, tertinggi di antara eksportir utama dunia seperti China, Colombia, Vietnam, dan Taiwan.

Menurut Andhi, nilai tersebut mencerminkan posisi tilapia Indonesia sebagai produk premium, sekaligus membuka peluang perluasan pasar bernilai tinggi. “Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan seluruh pelaku industri tilapia di Indonesia,” ujar Andhi.

Dikatakan bahwa industri tilapia mengusung konsep zero waste melalui pemanfaatan seluruh bagian ikan. Selain fillet sebagai produk utama, kulit dan sisik tilapia dapat diolah menjadi bahan baku kolagen serta gelatin, sedangkan bagian lainnya dimanfaatkan untuk tepung dan minyak ikan.

Sementara itu, perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (INTROSEA), Artati Widarti, menyampaikan bila pemanfaatan rumput laut tidak terbatas pada produk hidrokoloid, seperti karaginan dan agar.

Peluang pengembangannya mencakup beragam produk pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, serta bahan pendukung pertanian dan perikanan.

"Keragaman pemanfaatan ini membuka peluang untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah rumput laut Indonesia," jelasnya.

Kemitraan Indonesia–Eropa pun dinilai Artati, dapat dikembangkan melalui perdagangan produk turunan, penelitian, investasi, dan pengolahan. Dukungan pengujian mutu, pemenuhan standar, dan akses pasar juga diperlukan agar produk semakin berdaya saing.

"Keterlibatan pembudidaya, industri, peneliti, dan pemerintah menjadi kunci agar peluang tersebut turut memperkuat usaha serta meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir," pungkasnya.

Related News