Kerang Dara Gorontalo Diminati Thailand dan Vietnam
Jagad Tani - Komoditas kerang dara hidup asal perairan Gorontalo semakin mendapatkan tempat di pasar internasional, terutama bagi pangsa pasar Thailand dan Vietnam.
Berdasarkan data sertifikasi Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Gorontalo, tercatat, di sepanjang tahun 2025 volume ekspor kerang dara hidup mencapai 52.911 kilogram dengan nilai Rp1,84 miliar.
Baca juga: Begini Cara Agar Dapat Bibit Pohon Gratis
Jumlah tersebut meningkat hampir lima kali lipat jika dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 11.021 kilogram. Hingga September 2026, pengiriman kerang dara hidup Gorontalo tercatat sebanyak 12,1 ton dengan nilai Rp512 juta melalui 23 kali pengiriman.
Adapun secara nasional, Direktorat Tindakan Karantina Ikan mencatatkan bahwa nilai ekspor kerang dara Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp128,9 miliar.
Menurut Kepala Pusat Pengembangan SDM (PPSDM) Karantina, Wisnu Wasisa Putra, kerang dara memiliki nilai ekonomi yang besar apabila dikelola dan ditangani dengan baik.
"Kerang dara tampak sederhana. Namun, dengan penanganan yang tepat, ia dapat menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi yang menggerakkan ekonomi pesisir," ujar Wisnu dalam keterangan tertulisnya dikutip Rabu (21/10).
Untuk kerang dara yang diekspor ke Thailand dan Vietnam tersebut berasal dari perairan Teluk Tomini, khususnya wilayah pesisir Boalemo dan Pohuwato, serta Laut Sulawesi di wilayah Gorontalo Utara.
Sementara itu, untuk Sertifikat Kesehatan Ikan diterbitkan setelah persyaratan terpenuhi, mulai dari kelengkapan dokumen, kesesuaian jenis dan jumlah, hasil pengujian laboratorium bebas Perkinsiosis, hingga penyelesaian kewajiban PNBP.
Salah satu pelaku usaha yang mengembangkan ekspor kerang dara adalah PT Indofish Gorontalo Ocean. Perusahaan tersebut berawal dari CV Utama Perkasa Indonesia yang berdiri pada 2019 dan kemudian bertransformasi menjadi perseroan terbatas pada 2 Februari 2025.
Pelaku usaha PT Indofish Gorontalo Ocean M. Ramli Paputungan menjelaskan bahwa ekspor kerang dara saat ini masih tergolong baru bagi sektor perikanan Gorontalo.
“Ekspor kerang dara merupakan hal baru di bidang perikanan Gorontalo. Kami berharap ini meningkatkan ekonomi nelayan dan menciptakan lapangan kerja,” jelas Ramli.
Dijelaskan jika sebagian besar wilayah pesisir Gorontalo masih memiliki potensi kerang dara yang belum dimanfaatkan secara optimal, dengan garis pantai sepanjang 655,8 kilometer, peluang pengembangan budidaya dinilai masih terbuka.
Namun, capaian ekspor tahun 2026 dinilai masih lebih rendah dibandingkan 2025, karena sejumlah kendala, mulai dari ketergantungan terhadap hasil tangkapan alam, terbatasnya kapasitas kargo pesawat komersial domestik, hingga persoalan penerbangan lanjutan.
“Hambatan kami saat ini ada dua: jadwal penerbangan lanjutan yang sering berubah dan biaya kargo yang mahal,” ujar Ramli.
Sementara Kepala Karantina Gorontalo Iswan Haryanto, mengatakan, pengembangan budidaya dilakukan agar pasokan tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan alam.
Selain itu, lanjut Iswan, diperlukan penyelarasan jadwal penerbangan lanjutan menuju Thailand dan Vietnam serta penelitian teknik penanganan agar kerang dapat tetap hidup hingga tiba di negara tujuan.
“Kami mendorong pengembangan budidaya, penyelarasan jadwal penerbangan lanjutan ke Thailand dan Vietnam, serta penelitian teknik penanganan agar kerang tetap hidup sampai di negara tujuan,” jelas Iswan.
Pihaknya juga membuka peluang kolaborasi penelitian dengan perguruan tinggi untuk mendukung pengembangan komoditas tersebut dan memberi dukungan untuk keberterimaan ekspor di negara tujuan.
“Barantin hadir memberikan dukungan dan pendampingan kepada pelaku usaha untuk memastikan keberterimaan ekspor ikan dan produk ikan di negara tujuan,” tukasnya.

