• 26 October 2026

Dari Papua, Menggantungkan Mimpi dari Berjualan Kopi

uploads/news/2026/10/dari-papua-menggantungkan-mimpi-866362ca026b7d3.jpg

Jagad Tani - Seorang pemuda asal Yahukimo, Papua Pegunungan, Penehas Balyo, kini menempuh semester VI jurusan teknik di Universitas Borobudur, Jakarta. Di sela-sela kesibukan kuliahnya, ia menggantungkan sebagian harapannya pada penjualan kopi.

Panehas bekerja di usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bernama Koppak. Uang yang diperolehnya dari berjualan kopi tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian disisihkan dan ditabung untuk membantu membayar biaya kuliah.

Baca juga: 5 Pasar Ikan Hias Underrated di Jabodetabek

"Saya senang, tadi Bapak (Kepala Badan Karantina Indonesia atau Barantin, Abdul Kadir Karding) sempat singgah. Tanya-tanya sedikit tentang aktivitas, jualan apa di sini," ucapnya di stan kopi pada gelaran Indonesia Quarantine Expo (IQExpo) 2026. 

Bukan cuma itu, kopi yang dijualnya pun berasal dari kawasan pegunungan Papua yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta. Sebagian kopi inipun dipetik oleh petani yang juga harus menghadapi medan berat dan keterbatasan akses menuju lahan perkebunan.

Setelah dipetik dan disiapkan untuk dikirim, kopi tersebut juga harus menempuh perjalanan menggunakan kapal laut untuk menuju ibu kota. Waktu pengirimannya bisa mencapai tujuh hingga sepuluh hari, bergantung pada perjalanan dan kondisi pengangkutan.

Lewat tangan dingin petani itulah kopi bisa dipanen, sampai akhirnya bisa tiba. Adapun kopi yang diperkenalkan Penehas di kawasan Smesco, Jakarta, ini berasal dari sejumlah wilayah di Papua, seperti Pegunungan Bintang, Timika, Paniai, Jayawijaya, dan Lanny Jaya.

Untuh harga yang ada di gerai Koppak, dalam secangkir kopi yang dijual harganya mulai dari Rp25.000. Sementara itu, kopi dalam kemasan dipasarkan seharga Rp120.000 per 100 gram.

Dilanjutkan Penehas, nilai kopi Papua tidak berhenti pada aroma, rasa, ataupun harga jual. Di balik setiap kemasan terdapat kerja para petani dari daerah asalnya. Ada hasil bumi yang harus diperjuangkan agar bisa sampai ke tangan konsumen.

Penehas tidak ingin selamanya hanya menjadi penjual kopi Papua di Jakarta dan berkeinginan agar suatu hari Papua Pegunungan memiliki fasilitas pengolahan kopi sendiri, sehingga hasil panen petani tidak harus bergantung pada proses pengolahan di luar daerah. 

"Karena itu, pembangunan industri pengolahan kopi dibarengi perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang menghubungkan kawasan perkebunan dengan jalur distribusi," harapnya.

Sementara Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menjelaskan bahwa peranan pihaknya tidak hanya berkaitan dengan pengawasan hama dan penyakit di pintu masuk dan keluar wilayah, tapi juga mendorong pelaku usaha agar memahami persyaratan karantina, ketertelusuran produk, serta ketentuan yang ditetapkan negara tujuan ekspor.

“Barantin hadir bukan untuk mempersulit, melainkan membentangkan ‘karpet merah’ bagi pelaku UMKM yang ingin menembus pasar ekspor,” ujar Karding saat membuka pameran (23/10).

Menurut Nina Damanik, Analis Perkarantinaan Tumbuhan Ahli Muda yang bertugas di Karantina Papua Pegunungan, menyoroti jumlah petani kopi di wilayahnya yang relatif terbatas, sehingga perlu ditingkatkan agar dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam skala lebih besar.

Dikarenakan kondisi tersebut upaya mendatangi masyarakat, mencari potensi komoditas unggulan, dan membangun komunikasi dengan petani serta instansi terkait harus dilakukan oleh pihaknya.

"Karantina mencari potensi, berkoordinasi, dan bertemu dengan petani supaya produksi meningkat," kata Nina.

Pengembangan kopi dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, utamanya dalam pembinaan produksi pertanian, pendampingan persyaratan kesehatan tumbuhan dan kesiapan perdagangan, hingga peningkatan produktivitas memerlukan dukungan yang lebih luas.

"Kita harus bangun koordinasi dengan dinas setempat. Kita hanya bisa mendorong," tukasnya.

Related News