Magelang Disiapkan Jadi Sentra Baru Produksi Susu
Jagad Tani - Untuk memperkuat upaya swasembada susu nasional, Provinsi Jawa Tengah melalui Kabupaten Magelang bakal menyiapkan sentra sapi perah baru, yang didukung pelayanan kesehatan hewan guna menjaga produktivitas serta mencegah penyakit pada ternak.
Menurut Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, kesehatan hewan jadi aspek penting dalam mengembangkan peternakan sapi perah. Sebab, peningkatan populasi ternak harus diimbangi upaya menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit.
Baca juga: Yogyakarta Disiapkan 76 Lokasi Budidaya Ikan Tematik
"Kami juga mendukung (swasembada susu). Kami di Pemprov memastikan untuk pengembangbiakannya," ungkap Taj Yasin, di Sentra Sapi Perah Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jumat (30/10).
Upaya yang telah dilakukan, salah satunya melalui program Healing (Kesehatan Hewan Keliling). Program tersebut mendekatkan pelayanan kesehatan hewan kepada peternak dan telah menjangkau 13 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.
"Kalau ada sapi-sapi yang berpotensi terkena penyakit, itu bisa dikoordinasikan dengan kita di Provinsi Jawa Tengah, karena kami siap untuk (mendukung upaya) pengobatan dan pencegahan (penyakit)," lanjutnya.
Jateng sendiri merupakan salah satu daerah penghasil susu nasional. Pada tahun 2025, populasi sapi perah di Jateng mencapai 77.566 ekor dengan produksi susu sekitar 75.366 ton. Kontribusinya mencapai 9,66% terhadap produksi susu nasional, dan berasa di peringkat ketiga nasional.
Selain mengembangkan sentra peternakan yang sudah mapan, seperti di Boyolali dan Klaten, Jateng juga membuka kawasan produksi baru di Magelang, Batang, dan Brebes yang dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian lahan, ketersediaan air dan pakan, serta akses pasar.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Muhammad Saleh Mustafa, mengatakan, Kabupaten Magelang berpeluang jadi salah satu sentra produksi susu sapi. Bahkan, pihaknya akan mengusulkan Magelang sebagai salah satu proyek percontohan pengembangan produksi susu.
"Kita harus mencapai swasembada susu. Ini yang paling berat, tetapi tetap kita coba dulu," jelasnya.
Dilanjutkan bahwa, pengembangan peternakan sapi perah tidak cukup hanya mengandalkan potensi wilayah. Kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kelembagaan peternak juga harus diperhatikan.
Saleh juga menyoroti keberadaan koperasi sebagai wadah untuk memperkuat posisi peternak. Kelembagaan yang kuat dinilai penting agar peternak memiliki daya tawar lebih tinggi dan tidak bergantung pada pihak perantara dalam memasarkan hasil produksinya.
Adapun, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyebut wilayahnya memiliki potensi agroklimat atau hubungan antara faktor iklim/cuaca dengan sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan, yang mendukung pengembangan sapi perah.
Setidaknya ada sebanyak 8 Kecamatan dengan kondisi wilayah yang sesuai untuk pengembangan peternakan. Salah satu kawasan yang ekosistem peternakannya sudah berkembang adalah Kecamatan Ngablak.
Meski demikian, pengembangan peternakan sapi perah di Magelang masih menghadapi tantangan, terutama soal keterbatasan populasi ternak dan kapasitas produksi koperasi yang saat ini, terdapat 2 koperasi peternak sapi perah, yakni Sapto Argo dan Amarto.
Produksi masing-masing koperasi tersebut, masih di bawah 2.000 liter susu, sehingga belum memenuhi kapasitas untuk memasok langsung ke industri pengolahan susu (IPS). Akibatnya, peternak masih bergantung pada pihak perantara dalam memasarkan susu. Kondisi ini turut memengaruhi harga jual yang diterima oleh para peternak.
Maka dari itu, ia berharap pengembangan sapi perah di Magelang tidak hanya berorientasi pada peningkatan populasi dan produksi, tetapi juga dibarengi upaya pembenahan manajemen koperasi serta penguatan kemitraan dengan industri pengolahan susu.

