Indonesia Berpotensi Kembangkan Garam Premium Bernilai Tinggi
Jagad Tani - Pengembangan potensi garam lokal bisa meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk garam Indonesia, sebagaimana diungkapkan Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Adi Sasongko.
Menurutnya, keberagaman sumber garam di dunia menunjukkan bahwa produk ini memiliki potensi untuk dikembangkan, tidak hanya sebagai komoditas kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sebagai produk premium.
Baca juga: Yogyakarta Disiapkan 76 Lokasi Budidaya Ikan Tematik
“Salah satu contohnya adalah garam Himalaya yang dikenal memiliki nilai jual tinggi di pasar. Indonesia juga berpotensi memiliki sumber garam yang kuantitatif yang dapat dikembangkan menjadi produk garam premium bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya, dilansir dari BRIN, Minggu (1/11).
Dilanjutkan bahwa garam merupakan bahan baku penting bagi sektor industri, termasuk industri kimia dan farmasi. Tapi ada kesenjangan nilai ekonomi besar antara garam tradisional yang diproduksi masyarakat dan garam impor. Harga garam import hampir tiga kali lipat dibandingkan garam tradisional.
Nugroho menjelaskan, peningkatan nilai tambah garam bisa dilakukan melalui pengolahan dan pengembangan produk demi memenuhi kebutuhan industri yang lebih spesifik seperti garam farmasi dan garam reagen. Menurutnya, Indonesia berpeluang dalam mengembangkan industri garam tersebut.
“Dengan garis pantai yang panjang dan potensi sumber daya garam yang tersebar di berbagai wilayah, Indonesia perlu memperkuat riset, teknologi pengolahan, dan desain industri agar tidak hanya menghasilkan garam mentah, tetapi juga mampu memproduksi garam dengan spesifikasi khusus untuk berbagai kebutuhan industri,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan, pengembangan industri garam tidak cukup jika hanya berfokus pada peningkatan jumlah produksi, namun peningkatan mutu, sertifikasi, dan pengolahan menjadi produk bernilai tambah tinggi juga perlu menjadi perhatian, sehingga kolaborasi diperlukan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Biofarmasi, dan Bahan Baku Obat (AB3O) Indonesia, Irfat Hista Saputra menilai industri bahan baku obat lokal dinilai telah menunjukkan perkembangan yang baik dengan kapasitas produksi yang bahkan bisa diekspor.
Irfat juga menyoroti berbagai tantangan pada pengembangan bahan baku obat di Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor serta minimnya anggaran maupun fokus pada sektor R&D (Research and Development).
"Proses sertifikasi dan regulasi dalam industri biofarma dan bahan obat cukup panjang dan rumit yang dapat menghambat pertumbuhan cepat dan inovasi sehingga dibutuhkan proses yang lebih efisien dan modernisasi regulasi yang sangat dibutuhkan," jelasnya.
Saat ini, lanjut Irfat, ada dua produsen garam farmasi lokal telah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama untuk produk cairan infus, hemodialisis, serta sejumlah produk farmasi yang menggunakan garam sebagai bahan tambahan (eksipien), seperti obat sirup dan tablet.
"Aspek harga juga menjadi pertimbangan utama, oleh karena itu, ketersediaan garam farmasi lokal perlu diimbangi dengan harga yang kompetitif agar dapat diterima oleh industri pengguna," terangnya.
Adapun General Manager PT. Garam (Persero), Supriyoto menyampaikan jika PT Garam sebagai salah satu BUMN berkomitmen untuk mengikuti arahan pemerintah guna mencapai swasembada garam nasional pada tahun 2027.
“Terdapat tiga program utama yang menjadi panduan, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi, dan teknologi, di mana target total kebutuhan garam nasional mencapai 5 juta ton,” jelasnya.
Dalam mendistribusikan garam olahan ke pabrik garam farmasi, ujar Supriyoto tantangan utamanya yaitu masih adanya kotoran (insoluble matter) karena proses produksi yang berasal dari tambak. Untuk mengatasi itu, pihaknya sedang melakukan instalasi mesin pemilah warna (color sorter).
Ke depan, pemanfaatan teknologi SWRO (Seawater Reverse Osmosis) dan MVR (Mechanical Vapor Recompression) direncanakan untuk memberi nilai tambah dan mempermudah proses pengolahan bahan baku agar memenuhi spesifikasi ketat untuk kebutuhan industri garam farmasi nasional.
“Target kami Adalah menyukseskan swasembada garam, tetapi di dalam hal tertentu, kami ingin mencoba memperbaiki kualitas garam yang memang dibutuhkan untuk garam sebagai bahan baku produsen garam farmasi. Mudah-mudahan di tahun 2028 semua bisa terlaksana,” tukasnya.

