• 6 November 2026

Bukan Cuma Gula, Tebu Dibidik Jadi Energi Masa Depan

uploads/news/2026/11/bukan-cuma-gula-tebu-5537291a8a960d9.jpg

Jagad Tani - Industri tebu kini terus didorong agar tidak menjadi komoditas penghasil gula saja, tetapi juga sebagai  penopang ketahanan pangan dan kemandirian energi nasional melalui pengembangan bioetanol.

Langkah tersebut diungkapkan oleh Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, melalui forum South East Asia Sugar Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis (5/11), yang mempertemukan para pemangku kepentingan industri gula dan bioetanol dari berbagai negara. 

Baca juga: Buah-Buahan Lokal yang Sudah Jarang Ditemukan Keberadaannya

Menurut Heru, pengembangan industri tebu ke depan, tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi gula, tapi juga mengoptimalkan potensi ekonomi seluruh bagian tanaman tebu. Bahkan pemanfaatan molase atau tetes tebu sebagai bahan baku bioetanol jadi peluang peningkatan nilai tambah industri perkebunan.

“Produksi gula harus terus ditingkatkan, tetapi pada saat yang sama potensi tebu dan produk sampingnya juga harus dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol. Dengan begitu, petani mendapatkan nilai tambah dan industri perkebunan memiliki peluang ekonomi yang lebih besar,” ujar Heru.

Dari sisi produksi, industri tebu nasional memiliki luas areal yang meningkat dari sekitar 447 ribu hektare pada 2021 menjadi 563 ribu hektare pada 2025. Produksi gula kristal putih juga naik dari 2,35 juta ton menjadi 2,67 juta ton.

Berdasarkan taksasi produksi tengah giling 2026, produksi gula diperkirakan mencapai 3,02 juta ton dari luas areal panen sekitar 585 ribu hektare. Namun, produksi tersebut dinilai perlu ditingkatkan, guna memenuhi kebutuhan gula nasional yang diperkirakan mencapai 6,33 juta ton. 

Untuk mempercepat peningkatan produksi, program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu, perluasan areal tanam, penggunaan benih unggul, serta penguatan kemitraan antara petani, perusahaan perkebunan, dan pabrik gula, akan terus digencarkan. 

Sementara di sisi hilir, pembangunan enam pabrik bioetanol berbahan baku tebu atau molase direncanakan mulai beroperasi pada 2028. Sejalan dengan kebijakan pencampuran bioetanol bahan bakar bensin secara bertahap, lewat rencana penerapan E10 pada 2027 dan E20 pada 2028, dengan melihat kesiapan pasokan dan infrastruktur.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, juga menegaskan bahwa hilirisasi komoditas pertanian merupakan kunci untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Indonesia dinilai memiliki potensi bahan baku bioetanol yang melimpah, mulai dari jagung, ubi kayu hingga tebu.

Untuk membangun ekosistem bioetanol yang berkelanjutan, ketersediaan bahan baku, investasi, kesiapan teknologi, serta infrastruktur produksi dan distribusi menjadi faktor penting yang harus dipastikan, agar pengembangan energi terbarukan berjalan tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan pangan.

“Mimpi kita E20. Apa itu E20? Etanol dan campuran bensin. Dari mana? Jagung, ubi kayu, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” tukas Amran.

Melalui pengembangan industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, transformasi industri tebu diharapkan menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing perkebunan sekaligus penggerak ekonomi hijau, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan petani. 

Related News